Kamis, 26 Februari 2015

proposal skripsi



PROPOSAL SKRIPSI
BAB I
A.    Judul
Istifham Dalam Film ‘Omar’ (Tinjauan Analisis Deskriptif Susunan Gramatikal)
B.     Konteks Penelitian
Sebagai proses penyampaian informasi dan pengetahuan, peran penting komunikasi juga menjadi suatu keniscayaan.Sebagai makhluk yang berpikir dan, karenanya, berbicara, komunikasi bagi manusia merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya. Komunikasi baginya adalah sarana untuk berinteraksi dengan ”yang diluar dirinya”. Terlebih saat ini, dengan percepatan teknologi tanpa henti, utamanya teknologi informasi. Eksistensinya akan selalu diakui sampai peradaban manusia berakhir
Komunikasi pada hakikatnya adalah pertukaran informasi. Secara ilmiah komunikasi merupakan proses penyampaian informasi atau pesan dari komunikator kepada komunikan dengan menggunakan lambang atau simbol tertentu baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mendapatkan umpan balik atau feed back.
Pengertian komunikasi juga dapat kita pahami dalam tiga konseptualisasi yang berbeda. Pertama, komunikasi yang dipahami sebagai tindakan satu arah yang berjalan linear dari komunikator kepada komunikan. Pengertian ini sesuai dalam beberapa kasus, seperti pidato dan komunikasi massa yang tidak melibatkan secara aktif pembaca atau pemirsanya, namun tidak sesuai untuk bentuk komunikasi interaktif. Kedua, komunikasi dipahami sebagai kegiatan interaktif yang melibatkan kedua belah pihak secara aktif. Jika yang satu berfungsi sebagai pemberi pesan, yang lain berfungsi sebagai penerima pesan. Demikian pula sebaliknya secara bergantian. Namun konseptualisasi yang kedua inipun tidak lepas dari kelemahan karena mengabaikan kemungkinan bahwa orang yang sama dapat berfungsi sebagai pemberi dan penerima pesan pada saat yang sama. Ketiga, komunikasi dipahami sebagai kegiatan transaksional yang dalam konteks ini berarti bahwa pihak-pihak yang terlibat komunikasi berada dalam kondisi interdependen. Dalam pengertian ketiga ini, komunikasi tidak hanya terbatas dalam komunikasi verbal tapi juga mencakup komunikasi nonverbal yang mencakup, misalnya, ekspresi wajah. Lebih jauh lagi, bahkan dalam tataran individu, manusia tidaklah lepas dari komunikasi. Di dalam dirinya, manusia mengalami komunikasi dengan dirinya yang disebut dengan komunikasi intrapersonal.
Dalam pengertian sederhana, komunikasi dapat diartikan sebagai penyampaian ”sesuatu yang sama” dari ”satu pihak” kepada ”pihak lain”. Dari sini, setidaknya, ada empat hal yang dibutuhkan dalam komunikasi; penyampaian atau yang dapat dipahami sebagai proses komunikasi; sesuatu yang sama atau pesan yang ingin disampaikan; pihak pertama (komunikator) yang berkepentingan untuk menyampaikan pesan dimaksud; dan pihak kedua (komunikan) yang menjadi tujuan penyampaian pesan. Dengan analisis yang lebih mendalam dapat diketahui bahwa pesan yang merupakan inti komunikasi terdiri dari dua aspek; isi pesan yang ingin disampaikan (the content of the message) dan lambang yang dijadikan sarana untuk menyampaikan pesan tersebut (symbol).
Dalam suatu komunikasi atau dialog biasanya akan terjadi tanya jawab. Sebuah jawaban akan hadir bila ada pertanyaan dan biasanya setiap jawaban harus sesuai dengan apa yang ditanyakan.
Sebagai ilustrasinya, kita sering dihadapkan pada situasi di mana kita harus berkomunikasi dengan orang lain, baik kepada orang yang kita kenal maupun dengan orang yang belum kita kenal. Bila kita ditanya, siapakah namamu? maka jawaban yang kita berikan adalah nama saya anu. Dari mana asalmu? Maka kita jawab, saya dari kota X, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sejenis.
Dari ilustrasi di atas, maka bisa dipahami bahwa setiap pertanyaan yang diajukan pasti akan dijawab sesuai dengan pertanyaannya. Atau dengan kata lain, bahwa setiap pertanyaan, membutuhkan jawaban yang sesuai dengan pertanyaannya. Dari sini dapat diketahui bahwa jawaban yang baik adalah yang sesuai dengan yang ditanyakan dan sesuai dengan konteks pembicaraan. Dengan adanya kesesuaian antara pertanyaan dan jawaban, maka akan terpenuhilah apa yang menjadi keinginan si penanya. Inilah kaidah yang umumnya berlaku dalam suatu komunikasi.
Memang tidak wajib memiliki pemikiran yang seragam. Namun, bagi tiap-tiap pemerhati bahasa kedua, dalam hal ini Bahasa Arab, perlu juga menyadari pentingnya mengetahui kaidah-kaidah dalam bertanya serta memahami fungsi masing-masing yang tentunya berbeda satu sama lain. Sehingga tidak salah dalam meggunakannya.
Di antara kegiatan mempelajari bahasa kedua, Tindak tutur bertanya merupakan aktivitas yang dilakukan banyak kalangan. Kegiatan bertanya –dalam hal ini Bahasa Arab- sangat menarik perhatian penulis, karena kegiatan bertanya yang dilakukan pada saat mempelajari bahasa tersebut
Dalam penelitian ini permasalahan akan difokuskan pada analisis gramatikal dalam proses bertanya dalam Film ‘Omar’. Kemudian perumusan masalahnya terdiri dari bagaimana deskriptif susunan gramatikal istifham dalam film ‘Omar’. Lalu ditelusuri tentang hasil terjemahan mereka dilihat dari sisi susunan gramatikal kedua bahasa.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teori tentang tindak bertanya dan teori tentang struktur gramatikal bahasa arab. penelitian tentang “istifham dalam film ‘Omar’(tinjauan analisis deskriptif susunan gramatikal)” ini menggunakan pendekatan deskriptif. Sedangkan dalam penganalisaan data, digunakan perangkat analisis teks yang mendasarkan pada pendekatan. Peneliti mencoba mengamati konstruksi teks bahasa arab dalam film ‘omar’ dengan menggunakan perangkat analisis struktur gramatikal. Olah data yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan dokumentasi, penelusuran data dari buku-buku, dan wawancara dengan narasumber yang kompeten.. Namun, penulis menemukan lebih mengimplementasian struktur gramatikal istifham dalam bahasa arab yang baik dan benar.
Karena, Salah satu aspek kebahasaan yang terpenting adalah aspek qawaid atau gramatikal kebahasaan. Terabaikannya aspek gramatikal kebahasaan akan berimplikasi terhadap kurangnya materi kebahasa-araban.
Bahasa arab sebagai bahasa yang bisa dikatakan sangat sempurna dibanding bahasa lain di dunia, merupakan bidang kajian dan penelitian yang sangat luas. Dalam bahasa arab terdapat banyak kosakata yang mempunyai arti sama. Oleh karena itu bahasa arab termasuk bahasa terkaya dalam kosakata. Dengan adanya banyak kosakata bahasa arab memiliki banyak kesempatan untuk membentuk suatu susunan kalimat yang bergaya bahasa tinggi (ushlub). Meskipun dalam arti mempunyai kesamaan, tetapi penekanan masing-masing kata berbeda. Itulah kenapa bahasa arab disebut bahasa yang istimewa. Dan banyak ruang untuk menelitinya.
Untuk mengungkapkan pentingnya bahasa arab di luar motif agama dapat dikatakan bahasa arab adalah bahasa dari kelompok terbesar dunia ketiga.[1] Bahasa arab juga sering disebut mempunyai kepustakaan besar di semua bidang ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan filsafat dan matematika yunani sampai ke barat melalui terjemahan dan tafsiran orang-orang arab.[2]
Ketika dunia barat abad petengahan masih diliputi era kegelapan, pada saat yang bersamaan, ilmu pengetahuan dan filsafat yunani telah disimpan dalam buku-buku berbahasa arab dalam bentuk terjemahan. Bahkan, hampir semua buku-buku ilmu pengetahuan yang ditulis penulis ternama waktu itu berhasil diterjemahkan ka dalam bahasa arab sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan sains.[3]
C.    Fokus masalah
Berdasarkan konteks penelitian yang telah penulis paparkan di depan, maka ada beberapa fokus masalah yang akan menjadi pokok permasalahan pada penelitian ini, yaitu sebagai berikut:
1.      Bagaimana istifham?
2.      Bagaimana istifham dalam Film ‘Omar’ (tinjauan analisis deskriptif susunan gramatikal)
D.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1.      Istifham
2.      Istifham dalam film ’omar’ (tinjauan analisis deskriptif susunan gramatikal)
E.     Manfaat Penelitian
Hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis, diharapkan dapat berguna baik secara teoritis maupun praktis.
1.      Secara teoritis
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pengembangan materi belajar mengajar studi bahasa arab serta menambah pengetahuan tentang istifham dengan metode simak dalam penggunaan bahasa Arab yang terdapat pada percakapan dalam Film ‘Omar’.
2.      Secara praktis
Penelitian ini memiliki tujuan yang penulis klasifikasikan sebagai berikut:
a.       BagiPeneliti
Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Strata 1 (S-1) pada Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah dan Kejuruan Institut Fatah hasyim Jombang. Serta karya yang sangat berharga dalam mengaktualisasikan pengetahuan dan ketrampilan yang telah dipelajari di bangku perkuliahan.
b.      Bagi Almamater
Dapat dijadikan sebagai bahan kajian guna menambah khasanah keilmuan khususnya bagi mahasiswa tarbiyah yang nantinya akan terjun sebagai tenaga-tenaga pendidik. Serta sebagai tambahan referensi kepustakaan di Institut Fatah Hasyim Jombang.
c.       Bagi obyek penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi guru Bahasa Arab dalam memberikan materi pembelajaran istifham sehingga dapat meningkatkan kualitas belajar anak didiknya.
d.      Bagi masyaratakat
Bermanfaat sebagai bahan pengembangan keilmuan yang diharapkan dapat diambil manfaatnya oleh pembaca. Serta masukan bagi pengembangan keilmuan untuk penelitian selanjutnya
F.     Batasan Istilah
1.                            Istiham: Al-Istifhâm adalah mencari tahu tentang sesuatu yang belum diketahui sebelumnya, dengan menggunakan adât al-istifhâm (kata sandang untuk istifhâm), yaitu: hamzah, hal, man, mâ, matâ, ayyâna, kayfa, aina, kam dan ayyu .
2.                            Film ‘omar’
Film bertitle Omar ini, yang serentak tayang di beberapa negara di seluruh dunia. Di Indonesia film ini tayang di MNC TV mulai tanggal 1 pada bulan ramadhan tahun ini  setiap jam 3.45 WIB .
Film Omar ini sangat-sangat layak ditonton karena pada film ini terdapat banyak sekali mengandung nilai kehidupan. Serial ini mengandung aspek dramatis yang sangat menarik. Penggambaran kondisi Mekkah saat itu juga digambarkan dengan sangat baik, kondisi psikologis masyarakat, bentuk kultur yang ada, hingga kondisi lingkungan kota Mekkah pada saat itu.
3.                            Analisis deskriptif
Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnyakondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang kecendrungan yang tengah berlangsung.
Penelitian deskriptif mempunyai karakteristik-karakteristik seperti yang dikemukakan Furchan bahwa (1) penelitian deskriptif cendrung menggambarkan suatu fenomena apa adanya dengan cara menelaah secara teratur-ketat, mengutamakan obyektivitas, dan dilakukan secara cermat. (2) tidak adanya perlakuan yang diberikan atau dikendalikan, dan (3) tidak adanya uji hipotesis.
4.                            Susunan gramatikal
Makna gramatikal adalah hubungan antara unsur-unsur bahasa dalam satuan yang lebih besar, misalnya hubungan antara kata dengan kata yang lain dalam frasa atau kalimat.
Kalimat gramatikal yaitu kalimat yang disusun mengikuti kaedah bahasa yang berlaku. Makna gramatikal dapat muncul setelah adanya dua kata atau lebih yang bergabung menjadi satuan bahasa (frase bahasa), dan dapat terjadi karena adanya afiksasi, pembentukan kata majemuk, dalam kalimat tersebut
G.    Metode penelitian
Hakikat penelitian bahasa adalah kegiatan menguraikan identitas objek sasaran (objek penelitian) dalam hubungannya dengan keseluruhan konteks yang memungkinkan hadirnya objek penelitian tersebut.[4] metode memiliki hubungan dengan teori.[5] Maksudnya, pemilihan penggunaan metode dan teknik-teknik sangat ditentukan oleh watak dasar objek penelitian.
a.      Pendekatan penelitian
Dalam penelitian tersebut, peneliti menggunakan pendekatan deskriptif untuk mendeskripsikan susunan gramatikal istifham dalam Film ‘Omar’ dengan rancangan penelitian studi kasus dan cenderung menggunakan analisis dengan metode induktif.
Dalam penelitian deskriptif ketiga tahapan pelaksanaan penelitian, yaitu penyediaan data, analisis data, dan penyajian atau perumusan hasil analisis merupakan tahapan yang harus dilalui.[6] Istilah deskriptif menyarankan bahwa penelitian yang dilakukan berdasarkan fakta-fakta yang ada atau fenomena yang empiris terhadap tuturan penutur-penuturnya, sehingga data yang dihasilkan atau yang dicatat berupa perian bahasa yang biasa dikatakan sifatnya seperti potret paparan seperti adanya.
Hasil penelitian ini berupa kutipan-kutipan dari kumpulan data yang sifatnya menuturkan bentuk-bentuk istifham, memaparkan realitas susunan gramatikal dalam tindak tutur sebuah interaksi, menguraikan unsur-unsur istifham, mengklasifikasikan data sesuai dengan masalah penelitian, menganalisis tuturan berdasarkan teori, dan menafsiran interpretasi-interpretasi maksud dan makna tuturan. Objek dalam penelitian ini adalah tindak tutur bertanya yang merupakan bentuk tindak tutur dan realisasi berbahasa dalam acara Film ‘Omar’. Yakni berupa menggambarkan perilaku, pemikiran, atau perasaan suatu kelompok atau individu; mengungkap fakta, keadaan, fenomena, variabel dan keadaan yang terjadi saat penelitian berjalan dan menyuguhkan apa adanya. Dalam penelitian tersebut, peneliti menggunakan pendekatan deskriptif untuk mendeskripsikan  susunan gramatikal istifham dalam film ‘omar’.
Dalam penelitian kualitatif, studi kasus dapat dipandang sebagai metode sekaligus sebagai suatu rancangan untuk mengumpulkan informasi yang memadai tentang fakta-fakta atau keterangan-keterangan dari seseorang, latar sosial, peristiwa, atau kelompok yang sengaja diteliti untuk dipahami.
pada kondisi yang sebenarnya, baik kebaikannya, keburukannya, keberhasilannya, maupun kegagalannya secara apa adanya. Sifat yang demikian menyebabkan munculnya pandangan bahwa penelitian studi kasus sangat tepat untuk menjelaskan suatu kondisi alamiah yang kompleks.
Seperti halnya strategi dan metoda penelitian kualitatif yang lain,  penelitian studi kasus menggunakan berbagai sumber data.  pengggunaan berbagai sumber data dimaksudkan untuk mendapatkan data yang terperinci dan komprehensif yang menyangkut obyek yang diteliti. Disamping itu, hal tersebut juga dimaksudkan untuk mencapai validitas dan realibilitas penelitian. Dengan adanya berbagai sumber data tersebut, peneliti dapat meyakinkan kebenaran dan keakuratan data yang diperolehnya dengan mengecek saling-silangkan antar data yang diperoleh.
Berdasarkan jumlahnya, studi kasus dalam penelitian ini adalah studi kasus tunggal yang pada umumnya hanya melibatkan satu lingkungan tertentu dan pada periode tertentu pula. Satu lingkungan dipilih karena dianggap memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh lingkungan lain.
Desain penelitian dalam Rancangan Studi Kasus paling tidak mencakup empat hal (1) apa yang akan diteliti (2) data apa yang harus dikumpulkan (3) bagaimana mengumpulkan data (4) bagaimana menganalisis hasilnya.
b.      Jenis penelitian
Jenis penelitian ini merupakan library research (penelitian pustaka), yaitu suatu uasaha untuk memperoleh data atau informasi yang diperlukan serta menganalisis suatu permasalahan melalui sumber-sumber kepustakaan, penulis menggunakan study kepustakaan atau library research ini dimaksudkan untuk memperoleh dan menela’ah teori-teori yang berhubungan dengan topik dan sekaligus dijadikan sebagai landasan teori.[7]
Langkah-langkah melakukan penelitian:
Penelitian kepustakaan adalah metode penelitian yang hanya membutuhkan keahlian dalam menemukan sumber bacaan atau media sebanyak-banyaknya. Setelah peneliti menemukan masalah yang ingin diteliti, selanjutnya masalah tersebut dirumuskan dengan kalimat yang singkat, namun jelas dalam menjabarkan masalah tersebut kepada pembaca. Tentunya, semua penelitian mensyaratkan rumusan masalah seperti ini. Tujuannya adalah untuk menghindari kesalahpahaman pembaca dalam mengartikan masalah penelitian itu. Jika peneliti sudah berhasil menghimpun seluruh bahan bacaan atau sumber referensi yang terkait dengan penelitiannya, langkah selanjutnya adalah menarik informasi-informasi yang penting dari seluruh sumber tersebut. Informasi tersebut nantinya dibuat ringkasan maupun kesimpulan untuk menyelesaikan masalah penelitian, atau mengomentari (mengkritik) teori yang ada. Setelah selesai mengumpulkan data-data, kemudian peneliti menulis kesimpulan pada hasil penelitian. Hasil penelitian ini harus ditulis secara berurutan sehingga mencerminkan pemecahan masalah secara runtut. Selain itu, penyusunan secara sistematis juga bermanfaat pada kesinambungan antara bab pertama hingga bab terakhir laporan penelitian atau skripsi. Secara umum, langkah-langkah melakukan penelitian kepustakaan digambarkan oleh Zed (2008), yaitu:
• Mendaftar semua variabel yang perlu diteliti.
• Memilih deskripsi bahan-bahan yang diperlukan dari sumber-sumber yang tersedia.
• Memeriksa indeks yang memuat variabel-variabel dan topik masalah yang diteliti.
• Selanjutnya yang menjadi lebih khusus adalah mencari artikel-artikel, buku-buku, dan biografi yang sangat membantu untuk mendapatkan bahan-bahan yang relevan dengan masalah yang diteliti.
• Setelah informasi yang relevan ditemukan, peneliti kemudian menelaah dan menyusun bahan pustaka sesuai dengan urutan kepentingan dan kaitannya dengan masalah yang sedang diteliti.
• Bahan-bahan informasi yang diperoleh kemudian dibaca, dicatat, diatur, dan ditulis kembali.
c.       Data dan sumber data
Dalam pengumpulan data, seorang peneliti wajib mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Penelitian kepustakaan adalah penelitian kualitatif; oleh karena itu, data-data yang didapatkan dari berbagai sumber bacaan ataupun media harus digali dan ditelaah secara mendalam. Mestika Zed (2008) memberikan beberapa ide bagaimana mengumpulkan data dalam model penelitian kepustakaan:
• Memiliki ide umum tentang topik penelitian;
• Cari informasi pendukung;
• Pertegas fokus (perluas/persempit) dan organisasikan bahan bacaan;
• Cari dan temukan bahan yang diperlukan;
• Reorganisasikan bahan dan membuat catatan penelitian (paling sentral);
• Kaji dan perkaya lagi bahan bacaan yang diperoleh
Data yang dikumpulkan terbagi menjadi dua yaitu data utama dan data penunjang atau sumber data. Data utama adalah informasi yang diperoleh berupa data yang terwujud dalam bentuk tuturan bertanya. Sedangkan data penunjang adalah data yang berupa rekaman atau dokumentasi yang berupa deskripsi tuturan.
Data yang dikumpulkan dan dianalisis berupa data kebahasaan yang terwujud dalam bentuk tuturan bertanya yang muncul dari deskripsi tuturan dalam Film ‘Omar’. Sedangkan, sumber data digunakan sebagai pegangan utama untuk mendapatkan data yang relevan dan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan dengan pokok permasalahan. Sumber data dalam penelitian ini dalam bentuk video rekaman atau dokumentasi dari episode-episode tayangan Film ‘Omar’ yang ditayangkan oleh stasiun televisi Trans7.
Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan Teknik Simak. Metodesimakmerupakanmetode yang digunakan  dalampenyediaan data dengancarapenelitianmelakukanpenyimakanpenggunaanbahasa.Dalamilmusosial,metodeinidapatdisejajarkandenganmetodepengamatan/observasi. Metode simak dirasa sangat efektif. Karena terdapat teknik Simak Bebas Libat Cakap(SBLC). Teknik simak bebas libat cakap yang digunakan oleh peneliti ini, dimaksudkan untuk menyadap perilaku berbahasa di dalam suatu peristiwa tutur tanpa keterlibatannya dalam peristiwa tutur tersebut. Peneliti dalam hal ini hanya sebagai pengamat atau pemerhati. Teknik ini digunakan dengan dasar pemikiran bahwa perilaku berbahasa hanya dapat benar-benar dipahami jika peristiwa berbahasa itu berlangsung dalam situasi yang sebenarnya yang berada dalam konteks yang lengkap.
Di samping proses tersebut, juga dilakukan  pencatatan pada kartu data yang selanjutnya dilakukan proses klasifikasi. Pencatatan itu dapat dilakukan langsung ketika teknik pertama atau kedua selesai digunakan atau sesudah pemutaran film dilakukan, dan dengan menggunakan alat tulis tertentu. Pencatatan ini dilakukan terhadap tindak tutur bertanya yang diucapkan penutur dan mitra tutur dalam Film ‘Omar’. Pencatatan pada kartu data dilanjutkan dengan proses pengklafikasian.
d.      Instrumen penelitian
Creswell (dikutip oleh Qodir, 2010) menyebutkan pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami. Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007) juga mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Penelitian kualitatif ini digunakan jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan (Qodir, 2010). Instrumen yang dapat digunakan dalam model penelitian kualitatif, salah satunya adalah check-list. Instrumen ini hanya mendaftarkan dokumen-dokumen apa saja yang harus dicari, baik itu di pustaka, maupun di tempat sumber referensi lainnya.
e.       Metode analisa data
Analisis merupakan sebuah proses berkelanjutan dalam penelitian dengan analisis awal menginformasikan data yang kemudia dikumpulkan. Ketika penelitin sudah selesai dalam mengumpulkan data, maka langkah berikutnya ialah menganalisis data yang telah diperoleh.
Analisis data kualitatif dapat dilakukan melalui 3 alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan.
1). Reduksi data. Yaitu, menggolongkan mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorgansasi data.
2). Penyajian data. Yaitu, menemukan pola hubungan yang berma’na serta memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan.
3). Penarikan kesimpulan atau verifikasi. Yaitu, membuat pola ma’na tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi.
5.                            Sistematika Pembahasan
Pembahasan dalam skripsi ini, penulis susun berdasarkan sistematika pembahasan sebagai berikut:
BAB I: Memuat pendahuluan dimulai dengan konteks penelitian masalah  yang menjadi dasar pemikiran penulis untuk melakukan penelitian ini, kemudian untuk menghindari pembiasan maka penulis membuat fokus masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian juga batasan istilah, kemudian penulis menjelaskanmetode penelitian, penulis membuat hipotesis  untuk menjawab dugaan sementara terhadap hasil penelitian metodologi dan sistematika pembahasan.
BAB II: Memuat kajian teori, pada bab ini mengemukakan tinjauan teoritis mengenai istifham meliputi pengertian istifham, adawat istifham, macam istifham, serta fungsi istifham. Film’Omar’; susunan gramatikal. Meliputi: Struktur Gramatikal Bahasa Indonesia, susunan gramatikal bahasa arab, Penamaan Ilmu Nahwu, pengarang dan perkembangannya, dan Aliran-aliran ilmu nahwu (Madaaris an-Nahwiyah),
BAB III: Memuat gambaran laporan hasil penelitian yakni mengenai pemaparan hasil penelitian yang merupakan deskriptif berkenaan dengan objek penelitian. seperti susunan gramatikal tindak tutur bertanya dalam Film ‘Omar’ serta data yang berhubungan dengan obyek penelitian.
BAB IV: Memuat analisis penelitian yakni merupakan inti dari pembahasan yang mengungkapkan tentang pengkajian, analisis, intrepretasi sesuai dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan serta aplikasinya di lapangan berkenaan dengan istifham dalam film ‘omar’ (tinjauan analisis deskriptif susunan gramatikal)
BAB V: Merupakan penutupan dari keseluruhan pembahasan dari skripsi ini yang meliputi rangkumandan saran.



















BAB II
TINJAUAN TEORISTIK
A.    Review Hasil Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian tentang istifham telah dilakukan, seperti yang akan dijelaskan sebagai berikut.
Umi fitriani – NIM. 03111262(211) al-istifham fi al-qur’an al karim dirasah tahliliyah balaghiyah. Skripsi thesis, UIN Sunan kalijaga yogyakarta. Ilmu balaghah menempatkan pertanyaan atau istifham sebagai salah satu uslub insya’. Yakni, kebalikan dari thalab.gaya bahasa pertanyaan ini dalam ilmu balaghah disebut dengan uslub istifham. Semua bentuk pertanyaan dengan bahasa arab denagn ragam struktur sintaksisnya merupakan uslub istifham. Yakni, kajian yang menitikberatberatkan pada  keindahan bahasa arab. Istifham yang dipahami dengan mencari pengetahuan tentang sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui mengandung pengertian bahwa sebuah pertanyaan diberikan hanya untuk mencari tahu dari orang yang ditanya. Fokus penelitian ini adalah pada keindahan uslub istifham, berbeda dengan penelitian penulis ke arah susunan gramatikal.
Nena Mu’minatul jannah, NIM. 99112380(2013) ma’ani istifham fi ahadits shahih muslim(dirasah tahliliyah balaghiyah). Skripsi thesisi, PERPUSTAKAAN UIN SUNAN KALIJAGA. Bentuk-bentuk kata tanya sangatlah banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu, apabila kita dihadapkan pada sesuatu yang belum atau tidak dipahami. Penelitian ini tidak jauh beda dengan penelitian di atas. Yakni, fokus pada keindahan bahasa. Hanya dalam penelitian ini mengarah pada ma’na haqiqi-majazi.
Dengan ini, menjadi penting penelitian yang dilakukan penulis mengarah pada susunan gramatikal istifham dengan objek penelitian film ‘omar’.
B.     Istifham
1.      Pengertian
Secara Etimologi, kata Istifham berasal dari bahasa Arab, masdar dari kata istafhama yang berarti istaudhaha. Akar katanya adalah fahima yang berarti faham, mengerti, jelas. Akar kata ini mendapat tambahan alif, sin dan ta’ di awal kata yang salah satu fungsinya adalah untuk meminta. Dengan demikian itu berarti permintaan penjelasan (thalabul fahmi).[8]
Sedangkan menurut terminologi, berikut beberapa pengertian yang dikemukakan oleh beberapa orang ahli:
  menurut Al Zarkasi adalah mencari pemahaman tentang suatu hal yang tidak diketahui.[9] Selain itu, istifham juga bisa dikatakan merupakan bentuk kalimat yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi yang jelas tentang suatu masalah yang belum diketahhui sebelumnya.[10]
  Menurut Al-Jarim dan Amin pengertian al-istifhāmu(الإستفهام) ialah mencari pengetahuan tentang sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui.
  Menurut pendapat Al-Hasyimi:
الإستفهام هو طلب العلم بشئ لم يكن معلوما من قبل         
“Istifham adalah mengharapkan untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui sebelumnya”.
  Dan menurut Dayyab, dkk.:
الإستفهام هو طلب العلم بشئ
     “Istifham adalah mengharapkan untuk mengetahui sesuatu”.
Dari defenisi-defenisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan Istifham adalah “suatu ucapan yang dipergunakan untuk menanyakan sesuatu agar si penanya mengetahuinya”.
2.      Adawat Istifham
Adawat atau alat istifham itu terdiri dari sebelas kata, yaitual-hamzatu(الهمزة), hal(هل), ma (ما), man (من), mata(متى), kaifa(كيف), aina (أين), ayyana(أيّان), anna (أنىّ), kam (كم), danayyu (أيّ).
Sebagaimana kaidah-kaidah bahasa Arab lainnya, istifham juga memiliki Adawat (adat-adat) sebagai ciri khas yang dapat membedakannya dengan kaidah lainnya.
            Adawatul istifaham terbagi menjadi dua kategori, yaitu:[11]
1. Huruf istifham berupa hamzah dan hal yang artinya apakah.
a.        Huruf hamzah, digunakan untuk menanyakan tentang apa atau siapa yang jawabannya memerlukan : ya atau tidak. Selain itu untuk menghadapi atau memberikan pengertian kepada orang yang ragu-ragu atau mendustakan.
Contoh:
.......|MRr&uä|Mù=è%Ĩ$¨Z=Ï9ÎTräσªB$#uÍhGé&urÈû÷üyg»s9Î)`ÏBÈbrߊ«!$#(tA$s%y7oY»ysö6ß$tBãbqä3tƒþÍ<÷br&tAqè%r&$tB}§øŠs9Í<@d,ysÎ/4.....ÇÊÊÏÈ

…Engkaukah yang berkata kepada orang: Sembahlah aku dan ibuku sebagai Tuhan selain Allah?” Ia berkata, “Maha suci Engkau! Tidak sepatutnya aku mengatakan apa yang bukan menjadi hakku… [12]
b.      Lafal hal adalah kata tanya untuk afirmasi, yang memerlukan jawaban : ya atau tidak.
هل disebut بسيطة bila yang ditanyakan tentang hakikat wujudnya sesuatu. Contoh: هل العنقاء موجودة؟
هل disebut مركبة bila yang ditanyakan tentang wujudnya sesuatu pada yang lain. Contoh: هل العنقاء تبيض و تفرخ
2.      Isim istifham berupa ma (apa), man (siapa), kaifa (bagaimana), mata (kapan), ayyana (bilamana), anna (dari mana), kam (berapa), aina (di mana), ayyu (apa, siapa).
Untuk pengertian  isim istifham sendiri, Al-Gulayayni[13] mengemukakan pendapatnya seperti berikut:
اسم الإستفهام هو اسم مبهم يستعلم به عن شيء
“Isim istifham adalah kata  yang samar maksudnya dipakai untuk  mengetahui atau mencari kejelasan tentang sesuatu”.

a.       Lafal ma (apa), digunakan untuk menanyakan sesuatu yang tak berakal. Atau  untuk menuntut definisi hakikat yang ditanyakan. Contoh:
$tBóOä3x6n=yÎûts)yÇÍËÈ(#qä9$s%óOs9à7tRšÆÏBtû,Íj#|ÁßJø9$#ÇÍÌÈ
Apa yang membawa kamu ke dalam api neraka?” Mereka berkata, “Kami tak termasuk golongan orang yang shalat”.[14]
øŒÎ)tA$s%ÏmŠÎ/L{¾ÏmÏBöqs%ur$tBÍnÉ»ydã@ŠÏO$yJ­G9$#ûÓÉL©9$#óOçFRr&$olm;tbqàÿÅ3»tãÇÎËÈ

(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?" [15]
ما  juga bisa dipakai untuk menanyakan penjelasan nama/كلمة, hakikat مسمى, dan keadaan yang disebutkan. Contoh:
ما العسجد؟ ما اللجين؟ jawabannya adalah: ان العسجد هو الذهب, ان اللجين هو الفضة
ما الانسان؟ yang ditanyakan adalah hakikat perinciannya(yang menurut مجمل nya الانسان adalah نوع مخصوص من الحيوان), maka dengan ما perlu perincian dengan jawaban: الانسان هو حيوان ناطق.
ما انت؟ ditanyakan pada orang yang datang. Misal yang ditanyakan sifat/keadaan. Jawabnya: زائر و مبعوث من خالد.[16]
b.      Lafal man (siapa), digunakan untuk menanyakan makhluk berakal. Contoh:
`¨B#sŒÏ%©!$#ÞÚ̍ø)ラ!$#$·Êös%$YZ|¡ym¼çmxÿÏ軟ÒãŠsùÿ¼ã&s!$]ù$yèôÊr&ZouŽÏWŸ24ª.......ÇËÍÎÈ
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak…[17]
c.       Lafal kaifa (bagaimana), digunakan untuk menanyakan keadaan sesuatu. Contoh:
y#øx.urtbrãàÿõ3s?öNçFRr&ur4n=÷Fè?öNä3øn=tæàM»tƒ#uä«!$#öNà6ŠÏùur¼ã&è!qßu3.....ÇÊÉÊÈ
Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu…[18]
d.      Lafal mata (kapan), digunakan untuk menanyakan waktu, baik yang lampau maupun yang akan datang. Contoh:
.....4ÓtLtBuqèd(ö@è%#Ó|¤tãbr&šcqä3tƒ$Y6ƒÌs%ÇÎÊÈ

…"Kapan itu (akan terjadi)?" Katakanlah: "Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat".[19]
e.       Lafal ayyana (bilamana), digunakan untuk menanyakan sesuatu berkenaan dengan waktu mendatang. Contoh:
ã@t«ó¡otb$­ƒr&ãPöqtƒÏpyJ»uŠÉ)ø9$#ÇÏÈ  
Ia berkata: "Bilakah hari kiamat itu?"[20]
Dan ايان dipakai untuk mengagungkan perkara yang ditanyakan. Contoh: يسئل ايان يوم القيامة, jawabnya: يوم هم على النار يفتنون.[21]
f.        Lafal anna (dari mana), digunakan untuk menanyakan asal usul. Contoh:
tA$s%Éb>u4¯Tr&Ücqä3tƒÍ<ÖN»n=äîÏMtR$Ÿ2urÎAr&tøB$##\Ï%%tæ.....ÇÑÈ

Ia berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua."[22]
أنى ada yang berma’na كيف: انى يحيي هذه الله؟, ada yang berma’na من اين: يا مريم انى لك هذا؟, ada juga yang berma’na متى: انى تكون زيادة النيل؟.
g.       Lafal kam (berapa), digunakan untuk menanyakan jumlah atau bilangan.
Contoh:
öNŸ2|M÷VÎ7s9(tA$s%àM÷VÎ7s9$·Böqtƒ÷rr&uÙ÷èt/5Qöqtƒ(tA$s%@t/|M÷VÎ7©9sps($ÏB5Q$tã.......ÇËÎÒÈ
…"Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?" Ia menjawab: "Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari." Allah berfirman: "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya…"[23]
h.       Lafal aina (dari mana), digunakan untuk menanyakan tempat. Contoh:
tûøïr'sùtbqç7ydõs?ÇËÏÈ
maka ke manakah kamu akan pergi ?[24]
i.                    Lafal ayyu (apa, siapa), dipakai untuk membedakan dua perkara yang merata/meliputi satu perkara. Contoh:
أي الفريقين خير مقاما  
“…golongan mana yang lebih baik kedudukannya?”
Ayyu bisa juga dipakai untuk menanyakan masa, tempat, hal, bilangan, عاقل atau غير عاقل menurut sandarannya. Contoh:
1). Masa: أي يوم اُجّلْتَ؟
2). Tempat: أي مجلس تَشَوَرْنَا؟
3). Hal: أي حال جئت هنا؟
4). Bilangan: أي ألف حجّ الحجّاج ببيت الله؟
5). Aqil: أيكم يأتيني بعرشها؟
6). غير عاقل: أي ثوب لبست؟
3.      Macam-Macam Istifham
a.       Dilihat dari segi bentuk permintaannya, istifhâm dibagi menjadi tiga macam, yaitu:[25]
a.       Pertanyaan  yang  kadang  meminta konfirmasi dan  kadang  meminta  afirmasi (tashawwur). Adât yang digunakan adalah hamzah, contoh:
1) أ علي مسافر أم خالد؟       2)  أ علي مسافر؟
b.      Pertanyaan yang meminta afirmasi saja, adât al-istifhâm yang digunakan adalah hal.contoh:
هل يعقل الحيوان؟
c.       Pertanyaan yang meminta konfirmasi saja. Adât yang digunakan adalah semua adât al-istifhâm kecuali hal dan hamzah.contoh:
يسئلونك عن الساعة أيان مرسها؟
Yang ditanyakan dalam istifham minta konfirmasi adalah kalimat setelah همزة serta ada معادل yang disebut bandingan setelah أم dan أم ini disebutمتّصل أمkarena masih ada hubungan kalimat sebelum dan sesudah أم .[26]
Sedang Yang ditanyakan dalam istifham afirmasi adalah نسبة dan tidak disertai معادل. Bila ada أم setelah jumlah maka أم disebut أم منقطعة yang berma’na بل.
و لست أبالي بعد فقدي مالكا    =    أموتى ناء أم هو الأن واقع
“aku tak peduli setelah tiadanya Raja adakah orang mati menggantinya bahkan sekarang sudah ada”
Jumlah setelah أم bukan معادل sebab أم nya منقطعة tidak ada hubungan dengan جملة sebelum أم.[27]
4.      Fungsi Istifham
Istifham berfungsi sebagai kata tanya, baik menanyakan tentang sesuatu yang berakal, atau tidak, yang lalu maupun yang akan datang. Istifham itu ada yang khusus dipergunakan untuk menanyakan tempat, waktu, keadaan, bilangan, hal yang meragukan maupun hal yang pasti.[28]
Terkadang kata-kata tanya itu keluar dari makna aslinya  kepada makna lain yang dapat diketahui melalui susunan kalimat, sehingga fungsi istifham di sini bukan sebagai kata tanya lagi, hal ini terjadi karena siyāqu alkalam (سياق الكلام) atau rasa bahasa pada kalimat yang dimasuki adawat istifham.[29]
Oleh karena itu, kalimatnya tidak memungkinkan untuk diartikan sebagai kalimat tanya, melainkan dapat mengandung beberapa makna berikut, diantaranya yaitu menunjukkan makna “meniadakan”/annafyu (النّفي), “ingkar”/inkaru (الإنكار), “penegasan”/at-taqriru (التقرير), “celaan”/at-taubikhu (التوبيخ), “mengagungkan atau membesar-besarkan”/at-ta’zimu (التّعظيم), “menghinakan”/at-tahqiru (التحقير), dan lain sebagainya.[30]
Dalam duruusul balaghah disebutkan faidah lain. Yaitu,
Ø  taswiyah (persamaan): سواء عليهم أأنذرتهم أم لم تنذرهم  “kau takut-takuti atau tidak sama saja”
Ø  amar: فهل أنتم منتهون أي انتهوا, أأسلمتم أي أسلموا
Ø  Nahi: أتخشونهم فالله أحقّ أن تخشوه “jangan kau takut mereka. Allahlah yang lebih baik kau takuti.”
Ø  taswiq(dibikin penasaran): هل أدلّكم على تجارة تنجيكم من عذاب اليم “maukah kau aku tunjukkan dagangan yang bisa menyelamatkanmu dari adzab yang pedih”[31]
syaikh Makhluf pun menambahkan beberapa fungsi. Yaitu,
Ø  istibtha’: كم دعوتك؟,
Ø  ta’jjub: ما لي لا أرى الهدهد
Ø  Tahakkum: أصلواتك تأمرك
Ø  tanbih ‘ala dlalal: فأين تذهبون
Ø  istib’ad: انّى لهم الذّكرى
Ø  tarhib/takhwif: ألم نهلك الأوّلين
Ø  inkar taubih: أتعبدون ما تنحتون
Ø  ibthal: أفأصفاكم ربّكم بالبنين و اتخذ من الملاءكة إناثا.[32]
Salah satu contoh isim istifham anna (أنىّ) yang keluar dari makna aslinya terdapat dalam surat al-Fajr ayat 23 berikut:
uäü(%É`ur¥Í´tBöqtƒzO¨Yygpg¿247Í´tBöqtƒãž2xtGtƒß`»|¡RM}$#4¯Tr&urã&s!2tø.Ïe%!$#ÇËÌÈ
“Dan pada hari itu diperlihatkan neraka jahannam; dan pada hari ituingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya”.[33]
Istifham pada ayat di atas mempergunakan isim istifham anna (أنىّ). Makna ayat di atas adalah annafyu (النّفي) atau meniadakan, menginkari, menyangkal, yang  artinya penyesalan pada saat itu tidak ada gunanya lagi.[34]
Salah satu huruf istifham, hal (هل) yang keluar dari ma’na asalnya terdapat pada potongan ayat berikut:
فهل لنا من شفعاء فيشفعوا لنا
Dan هل disitu bukan berarti butuh jawaban. Sebab, dalam isi kalimat tersebut takkan terjadi, hanya تمنّي. Dalam menggunakan adat تمنّي yang bukan asli jawabnya harus menggunakan فعل مضارع منصوب.[35]
Bisa juga digunakan untuk pengingkaran dan maknanya adalah menafikan kalimat sesudahnya. Contoh:
ö@yd4tAr&n?tãÇ`»|¡SM}$#×ûüÏmz`ÏiB̍÷d¤$!$#öNs9`ä3tƒ$\«øx©#·qä.õ¨BÇÊÈ 
Bukankah sudah berlalu pada manusia masa yang panjang dari waktu ketika dia bukan apa-apa (bahkan) tidak disebut-sebut?[36]

Istifham  yang  meminta konfirmasi menanyakan:
Ø  Musnad ilaih/mahkum alaih
أأنت فعلت هذا أم يوسف
Yang termasuk Musnad ilaih/mahkum alaih:[37]
a.       Fail.
b.      Naibul fail.
c.       Mubtada’ lahul fail.
d.      Asma-un nawasikh.
1). Isim kaana wa akhawaatuhaa
2). Isim inna wa akhawaatuhaa
3). Maf’ul awwal dhanna wa akhawaatuhaa
4). Maf’ul awwal araa wa akhawaatuhaa
Ø  Musnad/mahkum bih
أراغب أنت عن الأمر أم راغب فيه
Yang termasuk musnad/mahkum bih:[38]
a.       Fi’il.
b.      Mubtada’ lahu fa’il.
c.       Khobar mubtada’.
d.      Isim fi’il.
e.       Masdar naib’an fi’il ‘amar.
f.       Akhbar nawasikh.
Ø  Maf’ul:أإياي تقصد أم خالدا
Ø  Hal:أراكبا جئت أم ماشيا
Ø  Dzaraf: أيوم الخميس قدمت أم يوم الجمعة
dan Kadang kala معادل (bandingan) nya tidak disebutkan. Seperti halnya:[39]
Musnad ilaih: أأنت فعلت هذا؟
Musnad: أراغب أنت عن الأمر؟
Maf’ul: أإيّاي تقصد؟
Hal: أراكبا جئت؟
Dzaraf: أيوم الخميس قدمت؟
C.    Film ‘Omar’
Film ‘Omar’ sangat-sangat layak ditonton karena pada film ini terdapat banyak sekali mengandung nilai kehidupan. Serial ini mengandung aspek dramatis yang sangat menarik. Penggambaran kondisi Mekkah saat itu juga digambarkan dengan sangat baik, kondisi psikologis masyarakat, bentuk kultur yang ada, hingga kondisi lingkungan kota Mekkah pada saat itu.
Di Indonesia film ‘Omar’ tayang di MNC TV mulai tanggal 1 pada bulan ramadhan tahun ini  setiap jam 3.45 WIB . Selama Ramadan, serial epik 'Omar' Umar bin Khattab yang ditayangan MNC TV telah menyedot perhatian pemirsa Indonesia. Film kolosal yang menggambarkan kehidupan sepak terjang khalifah umat Islam kedua itu, Tidak hanya di Indonesia, film Omar juga ditayangkan di banyak negara.
Mengambil lokasi syuting di Maroko dan Suriah, film Omar diproduksi oleh 03 Production & MBC Dubai. Sedangkan untuk penulisan alur cerita, produsen menyerahkan kepada Waleed Saif, ahli sejarah yang mengetahui secara detail seluk beluk kehidupan kota Mekkah zaman itu.
Selama pembuatan 31 episode Film Omar, diperkirakan menghabiskan dana Rp 200 miliar. Jika ditelisik, dana sebesar itu sepadan dengan perencanaan film yang sangat matang. Produser mendirikan dua kompleks perumahan di atas lahan seluas ribuan hektar dengan ribuan rumah.
Tidak hanya itu, lebih dari 300 aktor dengan 3.000 pemain pengganti dari 10 negara juga dilibatkan selama pembuatan film. Sedangkan untuk kebutuhan wardrobe, film Omar menyertakan 39 desainer papan atas.
D.    Analisis deskriptif
Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya.[40] Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnyakondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang kecendrungan yang tengah berlangsung.
Furchan menjelaskan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang dirancang untuk memperoleh informasi tentang status suatu gejala saat penelitian dilakukan. Lebih lanjut dijelaskan, dalam penelitian deskriptif tidak ada perlakuan yang diberikan atau dikendalikan serta tidak ada uji hipotesis sebagaimana yang terdapat pada penelitian eksperiman. [41]
Karakteristik Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif mempunyai karakteristik-karakteristik seperti yang dikemukakan Furchan bahwa (1) penelitian deskriptif cendrung menggambarkan suatu fenomena apa adanya dengan cara menelaah secara teratur-ketat, mengutamakan obyektivitas, dan dilakukan secara cermat. (2) tidak adanya perlakuan yang diberikan atau dikendalikan, dan (3) tidak adanya uji hipotesis.
Penelitian memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.                             Memusatkan penyelidikan pada pemecahan masalah aktual atau masalah yang dihadapi pada masa sekarang.
b.                            Data yang telah dikumpulkan disusun dan dijelaskan, kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik analitik.
c.                             Menjelaskan setiap langkah penelitian secara rinci.
d.                            Menjelaskan prosedur pengumpulan datanya.
e.                             Memberi alasan yang kuat mengapa peneliti menggunakan teknik tertentu dan bukan teknik lainnya.
Penelitian deskriptif memiliki keunikan sebagai berikut :
a.       Penelitian deskriptif menggunakan kuesioner dan wawancara, seringkali memperoleh responden yang sangat sedikit, akibatnya bias dalam membuat kesimpulan.
b.      Penelitian deskriptif yang menggunakan observasi, kadangkala dalam pengumpulan data tidak memperoleh data yang memadai.
c.       Penelitian deskriptif juga memerlukan permasalahan yang harus diidentifikasi dan dirumuskan secara jelas, agar di lapangan peneliti tidak mengalami kesulitan dalam menjaring data yang diperlukan.
E.     Susunan Gramatikal
Struktur Gramatikal Bahasa Indonesia
  1. Fonem adalah satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna. Misalnya  /h/ adalah fonem karena membedakan makna kata harus dan arus, /b/ dan /p/ adalah dua fonem yang berbeda karena bara dan para beda maknanya
  2. Suku kata struktur yang terjadi dari satu atau urutan fonem yang merupakan konstituen (unsur bahasa yang merupakan bagian dari satuan yang lebih besar) kata. Misalnya pada kata kemarin terdapat tiga suku kata yaitu ke-ma-rin.
  3. Morfem adalah satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna secara relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil misalnya ber (morfem terikat) baca (morfem bebas)
  4. Kata adalah (a) morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas (b) satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal (misalnya batu, rumah, datang) atau gabungan morfem (misalnya  pejuang, pancasila, mahakuasa)
  5. Frasa adalah satuan gamatikal yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas dan fungsinya (sebagai SPOK ket. Pel.) misalnya siswa baru, sedang belajar
  6. Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata, sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat dan berpotensi menjadi kalimat. Misalnya Andi membaca buku disaat Adik sedang tidur
  7. Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa. Misalnya Andi membaca buku di perpustakaan.
  8. Paragraf adalah bagian bab dalam suatu karangan (biasanya mengandung satu ide pokok dan penulisannya dimulai dengan garis baru)
  9. Wacana adalah satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh, seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah dll.
Struktur gramatikal bahasa arab
Struktur gramatikal dalam bahasa arab maksudnya adalah kalimat bahasa arab(jumlah) atau di sebut al-murakkab al-isnadi.
Murakkab isnadi:
ما تألف من مسند و مسند إله[42]
lafadz yang tersusun dari munad dan musnad ilaih.
Imam sonhaji mendefinisikan kalam sebagai:
اللفظ المركب المفيد بالوضع
Lafadz yang tersusun berfaidah dengan disengaja.[43]
Sedang syeikh imrithi mendefinisikan kalam sebagai
كلامهم لفظ مسند[44]
Bagi beliau, menambahkan kata مسند itu lebih utama dari pada kata مركب. Karena kata مركب masih dimusykilkan maksudnya dengan إسنادي, اضافي, مجازي.[45]
Dalam ilmu mantiq, istilah kalam dikenal dengan qadliyah. Artinya,
كل مركب خبري.[46]
Penamaan Ilmu Nahwu, pengarang dan perkembangannya.
Ketika Islam mampu mengembangkan sayapnya ke belahan dunia. Maka, secara otomatis bahasa arab juga ikut andil dalam hal itu. Karena disamping sebagai bahasa resmi umat islam terutama shalat, juga Negara Arab sebagai tempat turunnya agama Islam, yang ketika itu Makkah sebagai daerahnya. Karena itu, bahasa arab akhirnya banyak yang ingin mempelajarinya sehingga tidak terlepaslah dari percampuran dengan bahasa lain yang secara pasti akan merubah susunan gramatikalnya. Akhirnya, fenomena ini menjadi perhatian penting pencinta dan pemerhati bahasa arab sendiri, karena seringnya mereka menemukan kesalahan (lahn) dalam berbicara dan penulisan. Hal ini terjadi, tidak lepas karena orang non arab (azam) dalam berbicara keseharian masih selalu menggunakan bahasa
negaranya sendiri, sehingga ketika berbicara dengan orang yang berketurunan arab selalu terdapat kesalahan dalam melafalkan kalimat.
Dalam satu riwayat disebutkan, bahwa Abu Al-Aswad Ad-Dhual sebagai pencinta dan pemerhati bahasa arab yang tinggal di negeri Basrah (sekarang, Irak) pernah menemukan seorang qori sedang mentilawahkan al-Qur an. Ketika itu, qori tersebut membaca kata "rasuulihi" yang terdapat dalam ayat "innallaaha bariiun minalmusyrikiin wa rasuuluhu"� dengan berbaris bawah (kasrah) dengan maksud meng'athaf kannya kepada kata" al-musyrikiin". Dan dalam riwayat yang lain, suatu malam Abu Al-Aswad Al-Dhual sedang duduk di balkon bersama putri kesayangannya, ketika sang putri melihat bintang-bintang di langit begitu indah sekali dengan menimbulkan cahaya yang gemilang, sehingga timbul kekagumannya dan mengatakan "مَا أَحْسَنُ السَمَاءَ" sebagai badal dari kalimat kagum (ta'azzub) yang seharusnya "مَا أَحْسَنَ السَمَاءِ". Dan telah banyak ia mendengar keselahan-kesalahan masyarakat pada waktu itu dalam berbicara, sehingga timbul kekhawatirannya akan rusaknya estetika gramatikal bahasa arab dari wujud aslinya. Kemudian ia pergi mengadukan hal-hal yang pernah ditemukannya, yang berkaitan dengan kerusakan estetika gramatikal bahasa arab kepada Saidina Ali Ra.
Aliran-aliran ilmu nahwu (Madaaris an-Nahwiyah).
Setelah tersusunnya ilmu gramatikal bahasa arab dan banyaknya para ulama yang telah memperjelas ilmu tersebut. Hal ini, mengakibatkan timbulnya aliran-aliran dalam ilmu nahwu, yang disebabkan adanya khilaf dikalangan para ulama nahwu dalam menentukan posisi (mahal) kata dalam suatu kalimat. Beda persepsi ini, tidak luput dari pengaruh daerah para ulama tersebut menetap. Diantara aliran-aliran ilmu nahwu (Madaaris an-Nahwiyah) tersebut: aliran (madrasah) Al-Basrah, Kufah, Baghdad, Andalus dan Mesir. Namun, aliran (madrasah) yang paling terkenal dalam kitab-kitab nahwu hanya dua, Basrah dan Kufah.
Aliran (Madrasah) Basrah.
Aliran (Madrasah) ini berkembang pesat hingga terkenal di kalangan para ulama nahwu (Nahwiyyiin), dikarenakan begitu semangat dan gigihnya para pelajar (thalib) dalam mempelajari ilmu nahwu yang langsung diajar oleh penyusun kitab nahwu pertama kali, Abu Aswad ad-Dhuali. Sebab utama begitu semangatnya mereka dalam mendalami ilmu nahwu, ketika itu Negeri Basrah telah bercampur penduduknya antara pribumi (baca; warga Basrah) dengan non pribumi (azam) yang hidup layaknya seperti penduduk asli. Bahasa arab merupakan bahasa resmi negara pada waktu itu, namun karena adanya percampuran non pribumi dalam negeri itu yang secara otomatis mengakibatkan adanya kerusakan dalam susunan tata bahasa arab. Sibawaihi merupakan salah satu produk aliran (madrasah) Basrah, yang telah mengarang buku nahwu yang berjudul "al-Kitab". Diantara ciri khas aliran (madrasah) Basrah selalu berpegang pada pendapat jumhur bahasa (lughoh) bila terdapat khilaf. Jika terdapat yang menyalahi jumhur mereka takwilkan� atau menggolongkannya sebagai kelompok yang ganjil (syaz), dan aliran (madrasah) ini selalu menggunakan sima'i dalam memecahkan suatu masalah yang berkaitan dengan gramatikal bahasa arab. Aliran (Madrasah) Kufah.
Negeri Kufah terkenal sebagai Negerinya para Muhadditsin, Penyair dan Qira ah. Sehingga terdapat di dalamnya tiga ulama yang masyhur dalam qira ah seperti kisai, Ashim Bin Abi Al-Nujud dan Hamzah. Kisaai termasuk pendiri aliran (Madrasah) Kufah. Penadapatnya terhadap suatu masalah dalam gramatikal bahasa arab selalu menjadi acuan, baik pengikutnya maupun yang lainnya. Ciri khas aliran (madrsah) ini, lebih sering menggunakan qiyas dalam memecahkan suatu masalah yang berkaitan dengan gramatikal bahasa arab. Jadi, begitu indahnya bahasa arab memiliki pemerhati bahasa yang mampu menjaga estetika bahasa itu sendiri. Bagaimana dengan bahasa Indonesia, akankah tetap memiliki estetika bahasa yang tinggi? Semoga!












KEPUSTAKAAN
Al-Gulayain, Mustafa, jami’ud durus al-arabiah, DKI,
Arsyad, Azhar, 2002, bahasa arab dan metode pengajarannya beberapa pokok pikiran, makassar: pustaka pelajar, cetakan ketiga.
Baijuri, syeikh Ibrahim, fathu rabbul bariyah, semarang: pustaka alawiyah.
Banna’ Haddam, Al-Balâghah: fi ‘Ilm al-Ma’ani. Ponorogo: Darussalam Press.
Chirzin, Muhammad, Al Qur’an dan Ulumul Qur’an (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa, 1998)
Dayyabdkk, 2004: 437-439.
Hadi,MA, Prof.Sutrisno, Metodologi  research I,(Yogyakarta : Andi Ofset,1997), cet 25
Imrithi, syeikh, khasiyah syarh imrithi, semarang: pustaka alawiyah.
Izzan, Ahmad, 2009, metodologi pembelajaran bahasa arab, bandung: humaniora, cetakan ketiga.
Jarim, ‘Ali dan Musthafa Amin. Al-Balâghah al-Wadhihah. Mesir:Dâr al-Ma’ârif. Cet.X. hlm. 192-199
Makhluf, syeikh, Jauharul maknun ‘alaa syarhil lubbul mushawwan Al-Mahalli dan As-Suyuthi, (Jilid IV) 2005:2721
Nurkholis dkk, 2005:276
Nur Ibrahimi, Muhammad, ilmu mantiq, surabaya: maktabah sa’d bin nashir nabhan, cetakan
kelima.
Rahimah, Ilmu Balaghah Sebagai Cabang Ilmu Bahasa Arab (Sumatera Utara: USU digital library, 2004)
Sonhaji, matan jurumiyah.
Thoha, Hj. Maryam, Duruusul balaaghah. Pustaka salafiyah


[1] Azhar arsyad, 2002, bahasa arab dan metode pengajarannya beberapa pokok pikiran, makassar: pustaka pelajar, cetakan ketiga, hal. 10.
[2]Azhar arsyad, 2002, bahasa arab dan metode pengajarannya beberapa pokok pikiran, makassar: pustaka pelajar, cetakan ketiga,  hal. 11.
[3] Ahmad izzan, 2009, metodologi pembelajaran bahasa arab, bandung: humaniora, cetakan ketiga, hal. XI.
[4]Mahsun, metode penelitian bahasa, 2013, hal. 31.
[5]Mahsun, metode penelitian bahasa,2013, hal. 16-17
[6]Mahsun, metode penelitian bahasa,2013, hal. 86
[7]Prof.Sutrisno Hadi,MA, Metodologi  research I,(Yogyakarta : Andi Ofset,1997), cet 25, hlm.82
[8]Muhammad Chirzin, Al Qur’an dan Ulumul Qur’an (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa, 1998), hlm. 177.
[9]Muhammad Chirzin, Al Qur’an dan Ulumul Qur’an (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa, 1998), hlm. 177.
[10]Rahimah, Ilmu Balaghah Sebagai Cabang Ilmu Bahasa Arab (Sumatera Utara: USU digital library, 2004), hlm. 13.
[11]Hasyimi, 1960, hal. 85
[12]QS. Al Maidah: 116
[13]Mushtafa-ghulayaini, jami’ud durus al’ arabiyah, 2007:91
[14]QS. Al Muddatstsir: 42- 43
[15]QS. Al Anbiya: 52
[16] Duruusul balaghah, hal. 30.
[17]QS. Al Baqarah: 245
[18]QS. Ali Imran: 101
[19]QS. Al Isra’: 51
[20]QS. Al Qiyamah: 6
[21] Maryam Thaha, Duruusul balaghah, hal 31.
[22]QS. Maryam: 8
[23]QS. Al Baqarah: 259
[24]QS. At Takwir: 26
[25]Lihat. ‘Ali Jarim dan Musthafa Amin. Al-Balâghah al-Wadhihah. Mesir:Dâr al-Ma’ârif. Cet.X. hlm. 192-199, dan Haddam Banna’, Al-Balâghah: fi ‘Ilm al-Ma’ani. Ponorogo: Darussalam Press. hlm. 29-38
[26] Durusul balaghah, hal. 27.
[27]Durusul balaghah, hal. 28-29.
[28]Nurkholis dkk, 2005:276
[29]Al-jarim dan Amin, 1999, hal. 218
[30]Dayyabdkk, 2004: 437-439.
[31]durusul balaghah, hal. 33.
[32]Jauharul maknun ‘alaa syarhil lubbul mushawwan, hal. 118—119.
[33]Qs.Al-Fajr:23
[34]Al-Mahalli dan As-Suyuthi, (Jilid IV) 2005:2721
[35]Duruusul balaaghah, hal. 35.
[36]QS. Al Insan: 1
[37]Duruusul balaaghah,  hal. 13.
[38] Durusul balaghah, hal. 13-14.
[39]Duruusul balaaghah, hal. 27-28.
[40]Sukmadinata, 2006, hal. 72
[41]Furchan, 2004, hal. 447
[42] Mustafa al-Gulayain, jami’ud durus al-arabiah, DKI, hal. 11.
[43] Sonhaji, matan jurumiyah, hal. 4.
[44] Imrithi, khasyah syarh imrithi, semarang: pustaka alawiyah, hal. 7.
[45] Ibrahim baijuri, fathu rabbul bariyah, semarang: pustaka alawiyah, hal. 7
[46] Muhammad Nur Ibrahimi, ilmu mantiq, surabaya: maktabah sa’d bin nashir nabhan, cetakan kelima, Hal, 30.