BAB I
A.
Judul
Istifham Dalam Film ‘Omar’ (Tinjauan Analisis Deskriptif Susunan
Gramatikal)
B.
Konteks Penelitian
Sebagai proses
penyampaian informasi dan pengetahuan, peran penting komunikasi juga menjadi
suatu keniscayaan.Sebagai makhluk yang berpikir dan, karenanya, berbicara,
komunikasi bagi manusia merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari
kehidupannya. Komunikasi baginya adalah sarana untuk berinteraksi dengan ”yang
diluar dirinya”. Terlebih saat ini, dengan percepatan teknologi tanpa henti,
utamanya teknologi informasi.
Eksistensinya akan selalu diakui sampai peradaban manusia berakhir
Komunikasi pada hakikatnya adalah pertukaran informasi. Secara
ilmiah komunikasi merupakan proses penyampaian informasi atau pesan dari
komunikator kepada komunikan dengan menggunakan lambang atau simbol tertentu
baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mendapatkan umpan balik atau
feed back.
Pengertian
komunikasi juga dapat kita pahami dalam tiga konseptualisasi yang berbeda. Pertama,
komunikasi yang dipahami sebagai tindakan satu arah yang berjalan linear dari
komunikator kepada komunikan. Pengertian ini sesuai dalam beberapa kasus,
seperti pidato dan komunikasi massa yang tidak melibatkan secara aktif pembaca
atau pemirsanya, namun tidak sesuai untuk bentuk komunikasi interaktif. Kedua,
komunikasi dipahami sebagai kegiatan interaktif yang melibatkan kedua belah
pihak secara aktif. Jika yang satu berfungsi sebagai pemberi pesan, yang lain
berfungsi sebagai penerima pesan. Demikian pula sebaliknya secara bergantian.
Namun konseptualisasi yang kedua inipun tidak lepas dari kelemahan karena
mengabaikan kemungkinan bahwa orang yang sama dapat berfungsi sebagai pemberi
dan penerima pesan pada saat yang sama. Ketiga, komunikasi dipahami
sebagai kegiatan transaksional yang dalam konteks ini berarti bahwa pihak-pihak
yang terlibat komunikasi berada dalam kondisi interdependen. Dalam pengertian
ketiga ini, komunikasi tidak hanya terbatas dalam komunikasi verbal tapi juga
mencakup komunikasi nonverbal yang mencakup, misalnya, ekspresi wajah. Lebih
jauh lagi, bahkan dalam tataran individu, manusia tidaklah lepas dari
komunikasi. Di dalam dirinya, manusia mengalami komunikasi dengan dirinya yang
disebut dengan komunikasi intrapersonal.
Dalam
pengertian sederhana, komunikasi dapat diartikan sebagai penyampaian ”sesuatu
yang sama” dari ”satu pihak” kepada ”pihak lain”. Dari sini, setidaknya, ada
empat hal yang dibutuhkan dalam komunikasi; penyampaian atau yang dapat
dipahami sebagai proses komunikasi; sesuatu yang sama atau pesan yang ingin
disampaikan; pihak pertama (komunikator) yang berkepentingan untuk menyampaikan
pesan dimaksud; dan pihak kedua (komunikan) yang menjadi tujuan penyampaian
pesan. Dengan analisis yang lebih mendalam dapat diketahui bahwa pesan yang
merupakan inti komunikasi terdiri dari dua aspek; isi pesan yang ingin
disampaikan (the content of the message) dan lambang yang dijadikan sarana
untuk menyampaikan pesan tersebut (symbol).
Dalam
suatu komunikasi atau dialog biasanya akan terjadi tanya jawab. Sebuah jawaban
akan hadir bila ada pertanyaan dan biasanya setiap jawaban harus sesuai dengan
apa yang ditanyakan.
Sebagai
ilustrasinya, kita sering dihadapkan pada situasi di mana kita harus
berkomunikasi dengan orang lain, baik kepada orang yang kita kenal maupun
dengan orang yang belum kita kenal. Bila kita ditanya, siapakah namamu? maka
jawaban yang kita berikan adalah nama saya anu. Dari mana asalmu? Maka kita
jawab, saya dari kota X, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sejenis.
Dari
ilustrasi di atas, maka bisa dipahami bahwa setiap pertanyaan yang diajukan
pasti akan dijawab sesuai dengan pertanyaannya. Atau dengan kata lain, bahwa
setiap pertanyaan, membutuhkan jawaban yang sesuai dengan pertanyaannya. Dari
sini dapat diketahui bahwa jawaban yang baik adalah yang sesuai dengan yang
ditanyakan dan sesuai dengan konteks pembicaraan. Dengan adanya kesesuaian
antara pertanyaan dan jawaban, maka akan terpenuhilah apa yang menjadi
keinginan si penanya. Inilah kaidah yang umumnya berlaku dalam suatu
komunikasi.
Memang
tidak wajib memiliki pemikiran yang seragam. Namun, bagi tiap-tiap pemerhati
bahasa kedua, dalam hal ini Bahasa Arab, perlu juga menyadari pentingnya
mengetahui kaidah-kaidah dalam bertanya serta memahami fungsi masing-masing
yang tentunya berbeda satu sama lain. Sehingga tidak salah dalam meggunakannya.
Di
antara kegiatan mempelajari bahasa kedua, Tindak tutur bertanya merupakan
aktivitas yang dilakukan banyak kalangan. Kegiatan bertanya –dalam hal ini
Bahasa Arab- sangat menarik perhatian penulis, karena kegiatan bertanya yang
dilakukan pada saat mempelajari bahasa tersebut
Dalam
penelitian ini permasalahan akan difokuskan pada analisis gramatikal dalam
proses bertanya dalam Film ‘Omar’. Kemudian perumusan masalahnya terdiri dari
bagaimana deskriptif susunan gramatikal istifham dalam film ‘Omar’. Lalu
ditelusuri tentang hasil terjemahan mereka dilihat dari sisi susunan gramatikal
kedua bahasa.
Dalam
penelitian ini, penulis menggunakan teori tentang tindak bertanya dan teori
tentang struktur gramatikal bahasa arab. penelitian tentang “istifham dalam
film ‘Omar’(tinjauan analisis deskriptif susunan gramatikal)” ini menggunakan
pendekatan deskriptif. Sedangkan dalam penganalisaan data, digunakan perangkat
analisis teks yang mendasarkan pada pendekatan. Peneliti mencoba mengamati
konstruksi teks bahasa arab dalam film ‘omar’ dengan menggunakan perangkat
analisis struktur gramatikal. Olah data yang digunakan dalam penelitian ini
dengan menggunakan dokumentasi, penelusuran data dari buku-buku, dan wawancara
dengan narasumber yang kompeten.. Namun, penulis menemukan lebih
mengimplementasian struktur gramatikal istifham dalam bahasa arab yang baik dan
benar.
Karena, Salah satu aspek kebahasaan yang terpenting adalah aspek qawaid
atau gramatikal kebahasaan. Terabaikannya aspek gramatikal kebahasaan akan
berimplikasi terhadap kurangnya materi kebahasa-araban.
Bahasa arab
sebagai bahasa yang bisa dikatakan sangat sempurna dibanding bahasa lain di
dunia, merupakan bidang kajian dan penelitian yang sangat luas. Dalam bahasa
arab terdapat banyak kosakata yang mempunyai arti sama. Oleh karena itu bahasa
arab termasuk bahasa terkaya dalam kosakata. Dengan adanya banyak kosakata
bahasa arab memiliki banyak kesempatan untuk membentuk suatu susunan kalimat
yang bergaya bahasa tinggi (ushlub). Meskipun dalam arti mempunyai
kesamaan, tetapi penekanan masing-masing kata berbeda. Itulah kenapa bahasa
arab disebut bahasa yang istimewa. Dan banyak ruang untuk menelitinya.
Untuk
mengungkapkan pentingnya bahasa arab di luar motif agama dapat dikatakan bahasa
arab adalah bahasa dari kelompok terbesar dunia ketiga.[1]
Bahasa arab juga sering disebut mempunyai kepustakaan besar di semua bidang
ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan filsafat dan matematika yunani sampai ke
barat melalui terjemahan dan tafsiran orang-orang arab.[2]
Ketika
dunia barat abad petengahan masih diliputi era kegelapan, pada saat yang
bersamaan, ilmu pengetahuan dan filsafat yunani telah disimpan dalam buku-buku
berbahasa arab dalam bentuk terjemahan. Bahkan, hampir semua buku-buku ilmu
pengetahuan yang ditulis penulis ternama waktu itu berhasil diterjemahkan ka
dalam bahasa arab sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan sains.[3]
C.
Fokus
masalah
Berdasarkan konteks penelitian yang telah
penulis paparkan di depan, maka ada beberapa fokus masalah yang akan menjadi
pokok permasalahan pada penelitian ini, yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimana
istifham?
2.
Bagaimana istifham dalam Film ‘Omar’ (tinjauan analisis deskriptif
susunan gramatikal)
D.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui:
1.
Istifham
2.
Istifham dalam film ’omar’ (tinjauan analisis deskriptif susunan
gramatikal)
E.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis, diharapkan dapat berguna
baik secara teoritis maupun praktis.
1.
Secara teoritis
Penelitian ini
diharapkan bermanfaat bagi pengembangan materi belajar mengajar studi bahasa
arab serta menambah pengetahuan tentang istifham dengan metode simak dalam
penggunaan bahasa Arab yang terdapat pada percakapan dalam Film ‘Omar’.
2.
Secara praktis
Penelitian ini memiliki tujuan yang penulis klasifikasikan sebagai berikut:
a.
BagiPeneliti
Sebagai salah
satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Strata 1 (S-1) pada Jurusan
Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah dan Kejuruan Institut Fatah hasyim
Jombang. Serta karya yang sangat berharga dalam mengaktualisasikan pengetahuan
dan ketrampilan yang telah dipelajari di bangku perkuliahan.
b.
Bagi Almamater
Dapat dijadikan
sebagai bahan kajian guna menambah khasanah keilmuan khususnya bagi mahasiswa
tarbiyah yang nantinya akan terjun sebagai tenaga-tenaga pendidik. Serta
sebagai tambahan referensi kepustakaan di Institut Fatah Hasyim Jombang.
c.
Bagi obyek
penelitian
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi guru
Bahasa Arab dalam memberikan materi pembelajaran istifham sehingga dapat
meningkatkan kualitas belajar anak didiknya.
d.
Bagi
masyaratakat
Bermanfaat sebagai bahan pengembangan keilmuan
yang diharapkan dapat diambil manfaatnya oleh pembaca. Serta masukan bagi
pengembangan keilmuan untuk penelitian selanjutnya
F.
Batasan Istilah
1.
Istiham: Al-Istifhâm adalah mencari
tahu tentang sesuatu yang belum diketahui sebelumnya, dengan menggunakan adât
al-istifhâm (kata sandang untuk istifhâm), yaitu: hamzah, hal,
man, mâ, matâ, ayyâna, kayfa, aina, kam dan ayyu .
2.
Film ‘omar’
Film bertitle Omar ini, yang serentak tayang di
beberapa negara di seluruh dunia. Di Indonesia film ini tayang di MNC TV mulai
tanggal 1 pada bulan ramadhan tahun ini setiap jam 3.45 WIB .
Film Omar ini sangat-sangat layak ditonton karena pada film ini
terdapat banyak sekali mengandung nilai kehidupan. Serial ini mengandung aspek
dramatis yang sangat menarik. Penggambaran kondisi Mekkah saat itu juga
digambarkan dengan sangat baik, kondisi psikologis masyarakat, bentuk kultur
yang ada, hingga kondisi lingkungan kota Mekkah pada saat itu.
3.
Analisis deskriptif
Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha
mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnyakondisi atau hubungan
yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau
efek yang terjadi, atau tentang kecendrungan yang tengah berlangsung.
Penelitian
deskriptif mempunyai karakteristik-karakteristik seperti yang dikemukakan
Furchan bahwa (1) penelitian deskriptif cendrung menggambarkan suatu fenomena
apa adanya dengan cara menelaah secara teratur-ketat, mengutamakan
obyektivitas, dan dilakukan secara cermat. (2) tidak adanya perlakuan yang
diberikan atau dikendalikan, dan (3) tidak adanya uji hipotesis.
4.
Susunan
gramatikal
Makna
gramatikal adalah hubungan antara unsur-unsur bahasa dalam satuan yang lebih
besar, misalnya hubungan antara kata dengan kata yang lain dalam frasa atau
kalimat.
Kalimat
gramatikal yaitu kalimat yang disusun mengikuti kaedah bahasa yang berlaku.
Makna gramatikal dapat muncul setelah adanya dua kata atau lebih yang bergabung
menjadi satuan bahasa (frase bahasa), dan dapat terjadi karena adanya afiksasi,
pembentukan kata majemuk, dalam kalimat tersebut
G.
Metode
penelitian
Hakikat
penelitian bahasa adalah kegiatan menguraikan identitas objek sasaran (objek
penelitian) dalam hubungannya dengan keseluruhan konteks yang memungkinkan
hadirnya objek penelitian tersebut.[4] metode
memiliki hubungan dengan teori.[5]
Maksudnya, pemilihan penggunaan metode dan teknik-teknik sangat ditentukan oleh
watak dasar objek penelitian.
a.
Pendekatan penelitian
Dalam penelitian tersebut, peneliti
menggunakan pendekatan deskriptif untuk mendeskripsikan susunan gramatikal
istifham dalam Film ‘Omar’
dengan rancangan penelitian studi kasus dan cenderung
menggunakan analisis dengan metode induktif.
Dalam penelitian deskriptif ketiga
tahapan pelaksanaan penelitian, yaitu penyediaan data, analisis data, dan
penyajian atau perumusan hasil analisis merupakan tahapan yang harus dilalui.[6]
Istilah deskriptif menyarankan bahwa penelitian yang dilakukan berdasarkan
fakta-fakta yang ada atau fenomena yang empiris terhadap tuturan
penutur-penuturnya, sehingga data yang dihasilkan atau yang dicatat berupa
perian bahasa yang biasa dikatakan sifatnya seperti potret paparan seperti
adanya.
Hasil penelitian ini berupa kutipan-kutipan
dari kumpulan data yang sifatnya menuturkan bentuk-bentuk istifham, memaparkan
realitas susunan gramatikal dalam tindak tutur sebuah interaksi, menguraikan
unsur-unsur istifham, mengklasifikasikan data sesuai dengan masalah penelitian,
menganalisis tuturan berdasarkan teori, dan menafsiran
interpretasi-interpretasi maksud dan makna tuturan. Objek dalam penelitian ini
adalah tindak tutur bertanya yang merupakan bentuk tindak tutur dan realisasi
berbahasa dalam acara Film ‘Omar’. Yakni berupa menggambarkan perilaku, pemikiran, atau
perasaan suatu kelompok atau individu;
mengungkap
fakta, keadaan, fenomena, variabel dan keadaan yang terjadi saat penelitian
berjalan dan menyuguhkan apa adanya. Dalam penelitian
tersebut, peneliti menggunakan pendekatan deskriptif untuk mendeskripsikan susunan gramatikal istifham dalam film
‘omar’.
Dalam penelitian kualitatif, studi kasus dapat
dipandang sebagai metode sekaligus sebagai suatu rancangan untuk mengumpulkan
informasi yang memadai tentang fakta-fakta atau keterangan-keterangan dari
seseorang, latar sosial, peristiwa, atau kelompok yang sengaja diteliti untuk
dipahami.
pada kondisi
yang sebenarnya, baik kebaikannya, keburukannya, keberhasilannya, maupun
kegagalannya secara apa adanya. Sifat yang demikian menyebabkan munculnya
pandangan bahwa penelitian studi kasus sangat tepat untuk menjelaskan suatu
kondisi alamiah yang kompleks.
Seperti halnya
strategi dan metoda penelitian kualitatif yang lain, penelitian studi
kasus menggunakan berbagai sumber data. pengggunaan berbagai sumber data
dimaksudkan untuk mendapatkan data yang terperinci dan komprehensif yang
menyangkut obyek yang diteliti. Disamping itu, hal tersebut juga dimaksudkan
untuk mencapai validitas dan realibilitas penelitian. Dengan adanya berbagai
sumber data tersebut, peneliti dapat meyakinkan kebenaran dan keakuratan data
yang diperolehnya dengan mengecek saling-silangkan antar data yang diperoleh.
Berdasarkan
jumlahnya, studi kasus dalam penelitian ini adalah studi kasus tunggal yang pada umumnya
hanya melibatkan satu lingkungan tertentu dan pada periode tertentu pula. Satu
lingkungan dipilih karena dianggap memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh
lingkungan lain.
Desain
penelitian dalam Rancangan Studi Kasus paling tidak mencakup empat hal (1) apa
yang akan diteliti (2) data apa yang harus dikumpulkan (3) bagaimana
mengumpulkan data (4) bagaimana menganalisis hasilnya.
b.
Jenis penelitian
Jenis penelitian ini merupakan library
research (penelitian pustaka), yaitu suatu uasaha untuk memperoleh data
atau informasi yang diperlukan serta menganalisis suatu permasalahan melalui
sumber-sumber kepustakaan, penulis menggunakan study kepustakaan atau library
research ini dimaksudkan untuk memperoleh dan menela’ah teori-teori yang
berhubungan dengan topik dan sekaligus dijadikan sebagai landasan teori.[7]
Langkah-langkah melakukan penelitian:
Penelitian
kepustakaan adalah metode penelitian yang hanya membutuhkan keahlian dalam
menemukan sumber bacaan atau media sebanyak-banyaknya. Setelah peneliti
menemukan masalah yang ingin diteliti, selanjutnya masalah tersebut dirumuskan
dengan kalimat yang singkat, namun jelas dalam menjabarkan masalah tersebut
kepada pembaca. Tentunya, semua penelitian mensyaratkan rumusan masalah seperti
ini. Tujuannya adalah untuk menghindari kesalahpahaman pembaca dalam
mengartikan masalah penelitian itu. Jika peneliti sudah berhasil menghimpun
seluruh bahan bacaan atau sumber referensi yang terkait dengan penelitiannya,
langkah selanjutnya adalah menarik informasi-informasi yang penting dari
seluruh sumber tersebut. Informasi tersebut nantinya dibuat ringkasan maupun
kesimpulan untuk menyelesaikan masalah penelitian, atau mengomentari (mengkritik)
teori yang ada. Setelah selesai mengumpulkan data-data, kemudian peneliti
menulis kesimpulan pada hasil penelitian. Hasil penelitian ini harus ditulis
secara berurutan sehingga mencerminkan pemecahan masalah secara runtut. Selain
itu, penyusunan secara sistematis juga bermanfaat pada kesinambungan antara bab
pertama hingga bab terakhir laporan penelitian atau skripsi. Secara umum,
langkah-langkah melakukan penelitian kepustakaan digambarkan oleh Zed (2008),
yaitu:
• Mendaftar
semua variabel yang perlu diteliti.
• Memilih
deskripsi bahan-bahan yang diperlukan dari sumber-sumber yang tersedia.
• Memeriksa
indeks yang memuat variabel-variabel dan topik masalah yang diteliti.
• Selanjutnya
yang menjadi lebih khusus adalah mencari artikel-artikel, buku-buku, dan
biografi yang sangat membantu untuk mendapatkan bahan-bahan yang relevan dengan
masalah yang diteliti.
• Setelah
informasi yang relevan ditemukan, peneliti kemudian menelaah dan menyusun bahan
pustaka sesuai dengan urutan kepentingan dan kaitannya dengan masalah yang
sedang diteliti.
• Bahan-bahan
informasi yang diperoleh kemudian dibaca, dicatat, diatur, dan ditulis kembali.
c.
Data dan sumber data
Dalam pengumpulan data, seorang peneliti wajib mengikuti prosedur
yang telah ditetapkan. Penelitian kepustakaan adalah penelitian kualitatif;
oleh karena itu, data-data yang didapatkan dari berbagai sumber bacaan ataupun
media harus digali dan ditelaah secara mendalam. Mestika Zed (2008) memberikan
beberapa ide bagaimana mengumpulkan data dalam model penelitian kepustakaan:
• Memiliki ide umum tentang topik penelitian;
• Cari informasi pendukung;
• Pertegas fokus (perluas/persempit) dan organisasikan bahan
bacaan;
• Cari dan temukan bahan yang diperlukan;
• Reorganisasikan bahan dan membuat catatan penelitian (paling
sentral);
• Kaji dan perkaya lagi bahan bacaan yang diperoleh
Data yang
dikumpulkan terbagi menjadi dua yaitu data utama dan data penunjang atau sumber
data. Data utama adalah informasi yang diperoleh berupa data yang terwujud
dalam bentuk tuturan bertanya. Sedangkan data penunjang adalah data yang berupa
rekaman atau dokumentasi yang berupa deskripsi tuturan.
Data yang
dikumpulkan dan dianalisis berupa data kebahasaan yang terwujud dalam bentuk
tuturan bertanya yang muncul dari deskripsi tuturan dalam Film ‘Omar’. Sedangkan, sumber data digunakan
sebagai pegangan utama untuk mendapatkan data yang relevan dan penelitian yang
dapat dipertanggungjawabkan dengan pokok permasalahan. Sumber data dalam
penelitian ini dalam bentuk video rekaman atau dokumentasi dari episode-episode
tayangan Film ‘Omar’ yang ditayangkan oleh stasiun televisi Trans7.
Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan Teknik Simak. Metodesimakmerupakanmetode
yang digunakan dalampenyediaan data
dengancarapenelitianmelakukanpenyimakanpenggunaanbahasa.Dalamilmusosial,metodeinidapatdisejajarkandenganmetodepengamatan/observasi. Metode simak
dirasa sangat efektif. Karena terdapat teknik Simak Bebas Libat Cakap(SBLC). Teknik simak bebas libat cakap yang digunakan
oleh peneliti ini, dimaksudkan untuk menyadap perilaku berbahasa di dalam suatu
peristiwa tutur tanpa keterlibatannya dalam peristiwa tutur tersebut. Peneliti
dalam hal ini hanya sebagai pengamat atau pemerhati. Teknik ini digunakan
dengan dasar pemikiran bahwa perilaku berbahasa hanya dapat benar-benar
dipahami jika peristiwa berbahasa itu berlangsung dalam situasi yang sebenarnya
yang berada dalam konteks yang lengkap.
Di samping proses tersebut, juga dilakukan pencatatan pada kartu data yang selanjutnya
dilakukan proses klasifikasi. Pencatatan itu dapat dilakukan langsung ketika
teknik pertama atau kedua selesai digunakan atau sesudah pemutaran film
dilakukan, dan dengan menggunakan alat tulis tertentu. Pencatatan ini dilakukan
terhadap tindak tutur bertanya yang diucapkan penutur dan mitra tutur dalam
Film ‘Omar’. Pencatatan pada kartu
data dilanjutkan dengan proses pengklafikasian.
d.
Instrumen
penelitian
Creswell
(dikutip oleh Qodir, 2010) menyebutkan pendekatan kualitatif adalah suatu
proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang
menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini,
peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci
dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami. Bogdan dan
Taylor (Moleong, 2007) juga mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis
maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Penelitian kualitatif
ini digunakan jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang
tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk
memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan (Qodir, 2010).
Instrumen yang dapat digunakan dalam model penelitian kualitatif, salah satunya
adalah check-list. Instrumen ini hanya mendaftarkan dokumen-dokumen apa saja
yang harus dicari, baik itu di pustaka, maupun di tempat sumber referensi
lainnya.
e.
Metode analisa data
Analisis merupakan sebuah proses berkelanjutan
dalam penelitian dengan analisis awal menginformasikan data yang kemudia
dikumpulkan. Ketika penelitin sudah selesai dalam mengumpulkan data, maka
langkah berikutnya ialah menganalisis data yang telah diperoleh.
Analisis data kualitatif dapat dilakukan
melalui 3 alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan.
1). Reduksi data. Yaitu, menggolongkan
mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorgansasi data.
2). Penyajian data. Yaitu, menemukan pola
hubungan yang berma’na serta memberikan kemungkinan adanya penarikan
kesimpulan.
3). Penarikan kesimpulan atau verifikasi.
Yaitu, membuat pola ma’na tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi.
5.
Sistematika Pembahasan
Pembahasan dalam skripsi
ini, penulis susun berdasarkan sistematika pembahasan sebagai berikut:
BAB I: Memuat pendahuluan dimulai
dengan konteks
penelitian masalah yang menjadi dasar pemikiran penulis untuk
melakukan penelitian ini, kemudian untuk menghindari pembiasan maka penulis
membuat fokus masalah, tujuan penelitian, manfaat
penelitian juga batasan istilah, kemudian penulis menjelaskanmetode penelitian, penulis membuat hipotesis untuk menjawab dugaan sementara terhadap
hasil penelitian metodologi dan sistematika pembahasan.
BAB II: Memuat kajian teori,
pada bab ini mengemukakan tinjauan teoritis mengenai istifham meliputi pengertian istifham, adawat istifham, macam istifham, serta fungsi istifham. Film’Omar’; susunan gramatikal. Meliputi: Struktur
Gramatikal Bahasa Indonesia, susunan gramatikal bahasa arab, Penamaan Ilmu
Nahwu, pengarang dan perkembangannya, dan Aliran-aliran ilmu nahwu (Madaaris
an-Nahwiyah),
BAB III: Memuat gambaran
laporan
hasil penelitian yakni mengenai pemaparan
hasil penelitian yang merupakan deskriptif berkenaan dengan objek penelitian.
seperti susunan gramatikal tindak tutur bertanya dalam Film ‘Omar’ serta data
yang berhubungan dengan obyek penelitian.
BAB IV: Memuat analisis
penelitian yakni merupakan inti dari
pembahasan yang mengungkapkan tentang pengkajian, analisis, intrepretasi sesuai
dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan serta aplikasinya di lapangan
berkenaan dengan istifham dalam film ‘omar’ (tinjauan analisis
deskriptif susunan gramatikal)
BAB V: Merupakan penutupan dari
keseluruhan pembahasan dari skripsi ini yang meliputi rangkumandan saran.
BAB II
TINJAUAN TEORISTIK
A.
Review Hasil Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian tentang istifham telah dilakukan, seperti yang
akan dijelaskan sebagai berikut.
Umi fitriani – NIM. 03111262(211) al-istifham fi al-qur’an al karim
dirasah tahliliyah balaghiyah. Skripsi thesis, UIN Sunan kalijaga yogyakarta.
Ilmu balaghah menempatkan pertanyaan atau istifham sebagai salah satu uslub
insya’. Yakni, kebalikan dari thalab.gaya bahasa pertanyaan ini dalam ilmu
balaghah disebut dengan uslub istifham. Semua bentuk pertanyaan dengan bahasa
arab denagn ragam struktur sintaksisnya merupakan uslub istifham. Yakni, kajian
yang menitikberatberatkan pada keindahan
bahasa arab. Istifham yang dipahami dengan mencari pengetahuan tentang sesuatu
yang sebelumnya tidak diketahui mengandung pengertian bahwa sebuah pertanyaan
diberikan hanya untuk mencari tahu dari orang yang ditanya. Fokus penelitian
ini adalah pada keindahan uslub istifham, berbeda dengan penelitian penulis ke
arah susunan gramatikal.
Nena Mu’minatul jannah, NIM. 99112380(2013) ma’ani istifham fi
ahadits shahih muslim(dirasah tahliliyah balaghiyah). Skripsi thesisi,
PERPUSTAKAAN UIN SUNAN KALIJAGA. Bentuk-bentuk kata tanya sangatlah banyak
dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu, apabila kita dihadapkan pada
sesuatu yang belum atau tidak dipahami. Penelitian ini tidak jauh beda dengan
penelitian di atas. Yakni, fokus pada keindahan bahasa. Hanya dalam penelitian
ini mengarah pada ma’na haqiqi-majazi.
Dengan ini, menjadi penting penelitian yang dilakukan penulis
mengarah pada susunan gramatikal istifham dengan objek penelitian film ‘omar’.
B.
Istifham
1.
Pengertian
Secara
Etimologi, kata Istifham berasal dari bahasa Arab, masdar dari kata istafhama
yang berarti istaudhaha. Akar katanya adalah fahima yang berarti faham,
mengerti, jelas. Akar kata ini mendapat tambahan alif, sin dan ta’
di awal kata yang salah satu fungsinya adalah untuk meminta. Dengan demikian
itu berarti permintaan penjelasan (thalabul fahmi).[8]
Sedangkan
menurut terminologi, berikut beberapa pengertian yang dikemukakan oleh beberapa
orang ahli:
menurut Al Zarkasi adalah mencari pemahaman
tentang suatu hal yang tidak diketahui.[9] Selain
itu, istifham juga bisa dikatakan merupakan bentuk kalimat yang
dipergunakan untuk mendapatkan informasi yang jelas tentang suatu masalah yang
belum diketahhui sebelumnya.[10]
Menurut
Al-Jarim dan Amin pengertian al-istifhāmu(الإستفهام) ialah mencari
pengetahuan tentang sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui.
Menurut
pendapat Al-Hasyimi:
الإستفهام هو طلب العلم بشئ لم يكن معلوما من قبل
“Istifham
adalah mengharapkan untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui sebelumnya”.
Dan menurut
Dayyab, dkk.:
الإستفهام هو طلب العلم بشئ
“Istifham adalah mengharapkan untuk
mengetahui sesuatu”.
Dari
defenisi-defenisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan Istifham
adalah “suatu ucapan yang dipergunakan untuk menanyakan sesuatu agar si penanya
mengetahuinya”.
2.
Adawat Istifham
Adawat atau alat istifham
itu terdiri dari sebelas kata, yaitual-hamzatu(الهمزة), hal(هل), ma (ما), man (من), mata(متى), kaifa(كيف), aina (أين), ayyana(أيّان), anna (أنىّ), kam (كم), danayyu (أيّ).
Sebagaimana
kaidah-kaidah bahasa Arab lainnya, istifham juga memiliki Adawat
(adat-adat) sebagai ciri khas yang dapat membedakannya dengan kaidah lainnya.
1. Huruf istifham
berupa hamzah dan hal yang artinya apakah.
a.
Huruf hamzah, digunakan untuk menanyakan tentang apa atau siapa yang
jawabannya memerlukan : ya atau tidak. Selain itu untuk menghadapi atau
memberikan pengertian kepada orang yang ragu-ragu atau mendustakan.
Contoh:
.......|MRr&uä|Mù=è%Ĩ$¨Z=Ï9ÎTräϪB$#uÍhGé&urÈû÷üyg»s9Î)`ÏBÈbrß«!$#(tA$s%y7oY»ysö6ß$tBãbqä3tþÍ<÷br&tAqè%r&$tB}§øs9Í<@d,ysÎ/4.....ÇÊÊÏÈ
…Engkaukah yang berkata
kepada orang: Sembahlah aku dan ibuku sebagai Tuhan selain Allah?” Ia berkata,
“Maha suci Engkau! Tidak sepatutnya aku mengatakan apa yang bukan menjadi
hakku… [12]
b.
Lafal hal adalah kata tanya untuk afirmasi, yang memerlukan jawaban : ya
atau tidak.
هل disebut بسيطة bila yang ditanyakan
tentang hakikat wujudnya sesuatu. Contoh: هل العنقاء
موجودة؟
هل disebut مركبة bila yang ditanyakan
tentang wujudnya sesuatu pada yang lain. Contoh: هل العنقاء تبيض
و تفرخ
2.
Isim istifham berupa ma
(apa), man (siapa), kaifa (bagaimana), mata (kapan), ayyana
(bilamana), anna (dari mana), kam (berapa), aina (di
mana), ayyu (apa, siapa).
Untuk
pengertian isim istifham sendiri, Al-Gulayayni[13]
mengemukakan pendapatnya seperti berikut:
اسم الإستفهام هو اسم مبهم يستعلم به عن شيء
“Isim istifham
adalah kata yang samar maksudnya dipakai
untuk mengetahui atau mencari kejelasan
tentang sesuatu”.
a.
Lafal ma (apa), digunakan untuk menanyakan sesuatu yang tak berakal.
Atau untuk menuntut definisi hakikat yang ditanyakan. Contoh:
$tBóOä3x6n=yÎûts)yÇÍËÈ(#qä9$s%óOs9à7tRÆÏBtû,Íj#|ÁßJø9$#ÇÍÌÈ
Apa yang membawa
kamu ke dalam api neraka?” Mereka berkata, “Kami tak termasuk golongan orang
yang shalat”.[14]
øÎ)tA$s%ÏmÎ/L{¾ÏmÏBöqs%ur$tBÍnÉ»ydã@ÏO$yJG9$#ûÓÉL©9$#óOçFRr&$olm;tbqàÿÅ3»tãÇÎËÈ
(Ingatlah), ketika Ibrahim
berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu
tekun beribadat kepadanya?" [15]
ما juga bisa dipakai untuk menanyakan penjelasan
nama/كلمة,
hakikat مسمى,
dan keadaan yang disebutkan. Contoh:
ما العسجد؟ ما اللجين؟ jawabannya adalah: ان العسجد هو
الذهب, ان اللجين هو الفضة
ما الانسان؟ yang ditanyakan adalah
hakikat perinciannya(yang menurut مجمل nya الانسان adalah نوع مخصوص من
الحيوان), maka dengan ما perlu perincian dengan
jawaban: الانسان هو حيوان ناطق.
ما انت؟ ditanyakan pada orang
yang datang. Misal yang ditanyakan sifat/keadaan. Jawabnya: زائر و مبعوث من
خالد.[16]
b.
Lafal man (siapa), digunakan untuk menanyakan makhluk berakal. Contoh:
`¨B#sÏ%©!$#ÞÚÌø)ã©!$#$·Êös%$YZ|¡ym¼çmxÿÏè»Òãsùÿ¼ã&s!$]ù$yèôÊr&ZouÏW24ª.......ÇËÍÎÈ
Siapakah yang
mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di
jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan
lipat ganda yang banyak…[17]
c.
Lafal kaifa (bagaimana), digunakan untuk menanyakan keadaan sesuatu.
Contoh:
y#øx.urtbrãàÿõ3s?öNçFRr&ur4n=÷Fè?öNä3øn=tæàM»t#uä«!$#öNà6Ïùur¼ã&è!qßu3.....ÇÊÉÊÈ
Bagaimanakah
kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan
Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu…[18]
d.
Lafal mata
(kapan), digunakan untuk menanyakan waktu, baik yang lampau maupun yang akan
datang. Contoh:
.....4ÓtLtBuqèd(ö@è%#Ó|¤tãbr&cqä3t$Y6Ìs%ÇÎÊÈ
…"Kapan itu (akan terjadi)?" Katakanlah:
"Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat".[19]
e.
Lafal ayyana
(bilamana), digunakan untuk menanyakan sesuatu berkenaan dengan waktu
mendatang. Contoh:
ã@t«ó¡otb$r&ãPöqtÏpyJ»uÉ)ø9$#ÇÏÈ
Ia berkata:
"Bilakah hari kiamat itu?"[20]
Dan ايان dipakai untuk
mengagungkan perkara yang ditanyakan. Contoh: يسئل ايان يوم
القيامة, jawabnya: يوم هم على
النار يفتنون.[21]
f.
Lafal anna (dari mana), digunakan untuk menanyakan asal usul. Contoh:
tA$s%Éb>u4¯Tr&Ücqä3tÍ<ÖN»n=äîÏMtR$2urÎAr&tøB$##\Ï%%tæ.....ÇÑÈ
Ia berkata:
"Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku
adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur
yang sangat tua."[22]
أنى
ada yang berma’na كيف:
انى يحيي هذه الله؟,
ada yang berma’na من اين:
يا مريم انى لك هذا؟,
ada juga yang berma’na متى:
انى تكون زيادة النيل؟.
g.
Lafal kam (berapa), digunakan untuk menanyakan jumlah atau bilangan.
Contoh:
öN2|M÷VÎ7s9(tA$s%àM÷VÎ7s9$·Böqt÷rr&uÙ÷èt/5Qöqt(tA$s%@t/|M÷VÎ7©9sps($ÏB5Q$tã.......ÇËÎÒÈ
…"Berapakah
lamanya kamu tinggal di sini?" Ia menjawab: "Saya tinggal di sini
sehari atau setengah hari." Allah berfirman: "Sebenarnya kamu telah
tinggal di sini seratus tahun lamanya…"[23]
h.
Lafal aina (dari mana), digunakan untuk menanyakan tempat. Contoh:
tûøïr'sùtbqç7ydõs?ÇËÏÈ
maka ke manakah
kamu akan pergi ?[24]
i.
Lafal ayyu
(apa, siapa), dipakai untuk membedakan dua perkara yang merata/meliputi satu
perkara. Contoh:
أي الفريقين خير مقاما
“…golongan mana
yang lebih baik kedudukannya?”
Ayyu bisa juga
dipakai untuk menanyakan masa, tempat, hal, bilangan, عاقل atau غير عاقل menurut sandarannya.
Contoh:
1). Masa: أي يوم
اُجّلْتَ؟
2). Tempat: أي مجلس
تَشَوَرْنَا؟
3). Hal: أي حال جئت هنا؟
4). Bilangan: أي ألف حجّ
الحجّاج ببيت الله؟
5). Aqil: أيكم يأتيني
بعرشها؟
6). غير عاقل: أي ثوب لبست؟
3. Macam-Macam
Istifham
a.
Pertanyaan yang
kadang meminta konfirmasi
dan kadang meminta
afirmasi (tashawwur). Adât yang digunakan adalah hamzah,
contoh:
1) أ علي مسافر أم
خالد؟ 2) أ علي مسافر؟
b.
Pertanyaan yang
meminta afirmasi saja, adât al-istifhâm yang digunakan adalah hal.contoh:
هل يعقل
الحيوان؟
c.
Pertanyaan yang
meminta konfirmasi saja. Adât yang digunakan adalah semua adât
al-istifhâm kecuali hal dan hamzah.contoh:
يسئلونك عن الساعة أيان مرسها؟
Yang ditanyakan dalam istifham minta konfirmasi adalah kalimat
setelah همزة
serta ada معادل
yang disebut bandingan setelah أم dan أم
ini disebutمتّصل أمkarena masih ada hubungan kalimat sebelum dan sesudah أم .[26]
Sedang Yang ditanyakan dalam istifham afirmasi adalah نسبة dan tidak disertai معادل. Bila ada أم setelah jumlah maka أم disebut أم منقطعة yang berma’na بل.
و لست أبالي بعد فقدي مالكا =
أموتى ناء أم هو الأن واقع
“aku
tak peduli setelah tiadanya Raja adakah orang mati menggantinya bahkan sekarang
sudah ada”
4. Fungsi Istifham
Istifham berfungsi
sebagai kata tanya, baik menanyakan tentang sesuatu yang berakal, atau tidak,
yang lalu maupun yang akan datang. Istifham itu ada yang khusus
dipergunakan untuk menanyakan tempat, waktu, keadaan, bilangan, hal yang
meragukan maupun hal yang pasti.[28]
Terkadang
kata-kata tanya itu keluar dari makna aslinya kepada makna lain yang
dapat diketahui melalui susunan kalimat, sehingga fungsi istifham di
sini bukan sebagai kata tanya lagi, hal ini terjadi karena siyāqu alkalam
(سياق الكلام)
atau rasa bahasa pada kalimat yang dimasuki adawat istifham.[29]
Oleh karena
itu, kalimatnya tidak memungkinkan untuk diartikan sebagai kalimat tanya,
melainkan dapat mengandung beberapa makna berikut, diantaranya yaitu
menunjukkan makna “meniadakan”/annafyu (النّفي), “ingkar”/inkaru
(الإنكار),
“penegasan”/at-taqriru (التقرير), “celaan”/at-taubikhu
(التوبيخ),
“mengagungkan atau membesar-besarkan”/at-ta’zimu (التّعظيم), “menghinakan”/at-tahqiru
(التحقير),
dan lain sebagainya.[30]
Dalam duruusul
balaghah disebutkan faidah lain. Yaitu,
Ø taswiyah (persamaan): سواء عليهم
أأنذرتهم أم لم تنذرهم “kau takut-takuti atau tidak sama saja”
Ø amar: فهل أنتم منتهون
أي انتهوا, أأسلمتم أي أسلموا
Ø Nahi: أتخشونهم فالله أحقّ
أن تخشوه “jangan kau takut mereka.
Allahlah yang lebih baik kau takuti.”
Ø taswiq(dibikin penasaran): هل أدلّكم على
تجارة تنجيكم من عذاب اليم
“maukah kau aku tunjukkan dagangan yang bisa menyelamatkanmu dari adzab yang
pedih”[31]
syaikh Makhluf
pun menambahkan beberapa fungsi. Yaitu,
Ø istibtha’: كم دعوتك؟,
Ø ta’jjub: ما لي لا أرى
الهدهد
Ø Tahakkum: أصلواتك تأمرك
Ø tanbih ‘ala dlalal: فأين تذهبون
Ø istib’ad: انّى لهم
الذّكرى
Ø tarhib/takhwif: ألم نهلك
الأوّلين
Ø inkar taubih: أتعبدون ما
تنحتون
Salah satu
contoh isim istifham anna (أنىّ) yang keluar dari makna
aslinya terdapat dalam surat al-Fajr ayat 23 berikut:
uäü(%É`ur¥Í´tBöqtzO¨Yygpg¿247Í´tBöqtã2xtGtß`»|¡RM}$#4¯Tr&urã&s!2tø.Ïe%!$#ÇËÌÈ
“Dan pada hari itu
diperlihatkan neraka jahannam; dan pada hari ituingatlah manusia, akan tetapi
tidak berguna lagi mengingat itu baginya”.[33]
Istifham pada ayat di
atas mempergunakan isim istifham anna (أنىّ). Makna ayat di atas
adalah annafyu (النّفي)
atau meniadakan, menginkari, menyangkal, yang artinya penyesalan pada
saat itu tidak ada gunanya lagi.[34]
Salah satu
huruf istifham, hal (هل)
yang keluar dari ma’na asalnya terdapat pada potongan ayat berikut:
فهل لنا من شفعاء فيشفعوا لنا
Dan هل disitu bukan berarti
butuh jawaban. Sebab, dalam isi kalimat tersebut takkan terjadi, hanya تمنّي. Dalam menggunakan adat تمنّي yang bukan asli jawabnya
harus menggunakan فعل مضارع منصوب.[35]
Bisa juga digunakan untuk pengingkaran dan
maknanya adalah menafikan kalimat sesudahnya. Contoh:
ö@yd4tAr&n?tãÇ`»|¡SM}$#×ûüÏmz`ÏiBÌ÷d¤$!$#öNs9`ä3t$\«øx©#·qä.õ¨BÇÊÈ
Bukankah sudah
berlalu pada manusia masa yang panjang dari waktu ketika dia bukan apa-apa
(bahkan) tidak disebut-sebut?[36]
Istifham yang meminta konfirmasi menanyakan:
Ø Musnad
ilaih/mahkum alaih
أأنت فعلت هذا أم يوسف
Yang termasuk Musnad ilaih/mahkum alaih:[37]
a.
Fail.
b.
Naibul fail.
c.
Mubtada’ lahul fail.
d.
Asma-un nawasikh.
1). Isim kaana
wa akhawaatuhaa
2). Isim inna
wa akhawaatuhaa
3). Maf’ul
awwal dhanna wa akhawaatuhaa
4). Maf’ul
awwal araa wa akhawaatuhaa
Ø Musnad/mahkum
bih
أراغب أنت عن الأمر أم راغب فيه
Yang termasuk musnad/mahkum bih:[38]
a.
Fi’il.
b.
Mubtada’ lahu fa’il.
c.
Khobar mubtada’.
d.
Isim fi’il.
e.
Masdar naib’an fi’il ‘amar.
f.
Akhbar nawasikh.
Ø Maf’ul:أإياي تقصد أم خالدا
Ø Hal:أراكبا جئت أم ماشيا
Ø Dzaraf: أيوم الخميس قدمت أم يوم الجمعة
Musnad
ilaih: أأنت فعلت هذا؟
Musnad:
أراغب أنت عن
الأمر؟
Maf’ul:
أإيّاي تقصد؟
Hal:
أراكبا جئت؟
Dzaraf:
أيوم الخميس
قدمت؟
C.
Film ‘Omar’
Film ‘Omar’ sangat-sangat layak ditonton karena
pada film ini terdapat banyak sekali mengandung nilai kehidupan. Serial ini
mengandung aspek dramatis yang sangat menarik. Penggambaran kondisi Mekkah saat
itu juga digambarkan dengan sangat baik, kondisi psikologis masyarakat, bentuk
kultur yang ada, hingga kondisi lingkungan kota Mekkah pada saat itu.
Di Indonesia film ‘Omar’ tayang di MNC TV mulai
tanggal 1 pada bulan ramadhan tahun ini setiap jam 3.45 WIB . Selama
Ramadan, serial epik 'Omar' Umar bin Khattab yang ditayangan MNC TV telah
menyedot perhatian pemirsa Indonesia. Film kolosal yang menggambarkan kehidupan
sepak terjang khalifah umat Islam kedua itu, Tidak hanya di Indonesia, film
Omar juga ditayangkan di banyak negara.
Mengambil lokasi syuting di Maroko dan Suriah,
film Omar diproduksi oleh 03 Production & MBC Dubai. Sedangkan untuk
penulisan alur cerita, produsen menyerahkan kepada Waleed Saif, ahli sejarah
yang mengetahui secara detail seluk beluk kehidupan kota Mekkah zaman itu.
Selama pembuatan 31 episode Film Omar,
diperkirakan menghabiskan dana Rp 200 miliar. Jika ditelisik, dana sebesar itu
sepadan dengan perencanaan film yang sangat matang. Produser mendirikan dua
kompleks perumahan di atas lahan seluas ribuan hektar dengan ribuan rumah.
Tidak hanya itu, lebih dari 300 aktor dengan
3.000 pemain pengganti dari 10 negara juga dilibatkan selama pembuatan film.
Sedangkan untuk kebutuhan wardrobe, film Omar menyertakan 39 desainer papan
atas.
D.
Analisis deskriptif
Penelitian
deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan
fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan
manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan,
hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya.[40]
Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan
menginterpretasikan sesuatu, misalnyakondisi atau hubungan yang ada, pendapat
yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi,
atau tentang kecendrungan yang tengah berlangsung.
Furchan menjelaskan
bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang dirancang untuk memperoleh
informasi tentang status suatu gejala saat penelitian dilakukan. Lebih lanjut
dijelaskan, dalam penelitian deskriptif tidak ada perlakuan yang diberikan atau
dikendalikan serta tidak ada uji hipotesis sebagaimana yang terdapat pada
penelitian eksperiman. [41]
Karakteristik
Penelitian Deskriptif
Penelitian
deskriptif mempunyai karakteristik-karakteristik seperti yang dikemukakan
Furchan bahwa (1) penelitian deskriptif cendrung menggambarkan suatu fenomena
apa adanya dengan cara menelaah secara teratur-ketat, mengutamakan
obyektivitas, dan dilakukan secara cermat. (2) tidak adanya perlakuan yang
diberikan atau dikendalikan, dan (3) tidak adanya uji hipotesis.
Penelitian memiliki ciri-ciri
sebagai berikut :
a.
Memusatkan penyelidikan pada
pemecahan masalah aktual atau masalah yang dihadapi pada masa sekarang.
b.
Data yang telah dikumpulkan disusun
dan dijelaskan, kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik analitik.
c.
Menjelaskan setiap langkah
penelitian secara rinci.
d.
Menjelaskan prosedur pengumpulan
datanya.
e.
Memberi alasan yang kuat mengapa
peneliti menggunakan teknik tertentu dan bukan teknik lainnya.
Penelitian deskriptif memiliki
keunikan sebagai berikut :
a. Penelitian
deskriptif menggunakan kuesioner dan wawancara, seringkali memperoleh responden
yang sangat sedikit, akibatnya bias dalam membuat kesimpulan.
b. Penelitian
deskriptif yang menggunakan observasi, kadangkala dalam pengumpulan data tidak
memperoleh data yang memadai.
c. Penelitian
deskriptif juga memerlukan permasalahan yang harus diidentifikasi dan
dirumuskan secara jelas, agar di lapangan peneliti tidak mengalami kesulitan
dalam menjaring data yang diperlukan.
E.
Susunan Gramatikal
Struktur Gramatikal Bahasa Indonesia
- Fonem adalah satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna. Misalnya /h/ adalah fonem karena membedakan makna kata harus dan arus, /b/ dan /p/ adalah dua fonem yang berbeda karena bara dan para beda maknanya
- Suku kata struktur yang terjadi dari satu atau urutan fonem yang merupakan konstituen (unsur bahasa yang merupakan bagian dari satuan yang lebih besar) kata. Misalnya pada kata kemarin terdapat tiga suku kata yaitu ke-ma-rin.
- Morfem adalah satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna secara relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil misalnya ber (morfem terikat) baca (morfem bebas)
- Kata adalah (a) morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas (b) satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal (misalnya batu, rumah, datang) atau gabungan morfem (misalnya pejuang, pancasila, mahakuasa)
- Frasa adalah satuan gamatikal yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas dan fungsinya (sebagai SPOK ket. Pel.) misalnya siswa baru, sedang belajar
- Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata, sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat dan berpotensi menjadi kalimat. Misalnya Andi membaca buku disaat Adik sedang tidur
- Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa. Misalnya Andi membaca buku di perpustakaan.
- Paragraf adalah bagian bab dalam suatu karangan (biasanya mengandung satu ide pokok dan penulisannya dimulai dengan garis baru)
- Wacana adalah satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh, seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah dll.
Struktur
gramatikal bahasa arab
Struktur
gramatikal dalam bahasa arab maksudnya adalah kalimat bahasa arab(jumlah) atau
di sebut al-murakkab al-isnadi.
Murakkab
isnadi:
ما تألف من مسند و مسند إله[42]
lafadz yang
tersusun dari munad dan musnad ilaih.
Imam sonhaji
mendefinisikan kalam sebagai:
اللفظ المركب المفيد بالوضع
Lafadz yang
tersusun berfaidah dengan disengaja.[43]
Sedang syeikh
imrithi mendefinisikan kalam sebagai
كلامهم لفظ مسند[44]
Bagi beliau,
menambahkan kata مسند
itu lebih utama dari pada kata مركب. Karena kata مركب masih dimusykilkan
maksudnya dengan إسنادي,
اضافي,
مجازي.[45]
Dalam ilmu
mantiq, istilah kalam dikenal dengan qadliyah. Artinya,
كل مركب خبري.[46]
Penamaan Ilmu Nahwu, pengarang dan perkembangannya.
Ketika Islam mampu mengembangkan sayapnya ke
belahan dunia. Maka, secara otomatis bahasa arab juga ikut andil dalam hal itu.
Karena disamping sebagai bahasa resmi umat islam terutama shalat, juga Negara
Arab sebagai tempat turunnya agama Islam, yang ketika itu Makkah sebagai
daerahnya. Karena itu, bahasa arab akhirnya banyak yang ingin mempelajarinya
sehingga tidak terlepaslah dari percampuran dengan bahasa lain yang secara pasti
akan merubah susunan gramatikalnya. Akhirnya, fenomena ini menjadi perhatian
penting pencinta dan pemerhati bahasa arab sendiri, karena seringnya mereka
menemukan kesalahan (lahn) dalam berbicara dan penulisan. Hal ini terjadi,
tidak lepas karena orang non arab (azam) dalam berbicara keseharian masih
selalu menggunakan bahasa
negaranya sendiri, sehingga ketika berbicara dengan orang yang berketurunan arab selalu terdapat kesalahan dalam melafalkan kalimat.
negaranya sendiri, sehingga ketika berbicara dengan orang yang berketurunan arab selalu terdapat kesalahan dalam melafalkan kalimat.
Dalam satu riwayat disebutkan, bahwa Abu Al-Aswad
Ad-Dhual sebagai pencinta dan pemerhati bahasa arab yang tinggal di negeri
Basrah (sekarang, Irak) pernah menemukan seorang qori sedang mentilawahkan
al-Qur an. Ketika itu, qori tersebut membaca kata "rasuulihi"
yang terdapat dalam ayat "innallaaha bariiun minalmusyrikiin wa
rasuuluhu"� dengan berbaris bawah (kasrah) dengan maksud
meng'athaf kannya kepada kata" al-musyrikiin". Dan dalam
riwayat yang lain, suatu malam Abu Al-Aswad Al-Dhual sedang duduk di balkon
bersama putri kesayangannya, ketika sang putri melihat bintang-bintang di
langit begitu indah sekali dengan menimbulkan cahaya yang gemilang, sehingga
timbul kekagumannya dan mengatakan "مَا
أَحْسَنُ السَمَاءَ" sebagai badal dari kalimat kagum (ta'azzub) yang
seharusnya "مَا أَحْسَنَ السَمَاءِ". Dan telah banyak ia mendengar keselahan-kesalahan
masyarakat pada waktu itu dalam berbicara, sehingga timbul kekhawatirannya akan
rusaknya estetika gramatikal bahasa arab dari wujud aslinya. Kemudian ia pergi
mengadukan hal-hal yang pernah ditemukannya, yang berkaitan dengan kerusakan
estetika gramatikal bahasa arab kepada Saidina Ali Ra.
Aliran-aliran
ilmu nahwu (Madaaris an-Nahwiyah).
Setelah tersusunnya ilmu gramatikal bahasa arab
dan banyaknya para ulama yang telah memperjelas ilmu tersebut. Hal ini, mengakibatkan
timbulnya aliran-aliran dalam ilmu nahwu, yang disebabkan adanya khilaf
dikalangan para ulama nahwu dalam menentukan posisi (mahal) kata dalam
suatu kalimat. Beda persepsi ini, tidak luput dari pengaruh daerah para ulama
tersebut menetap. Diantara aliran-aliran ilmu nahwu (Madaaris an-Nahwiyah)
tersebut: aliran (madrasah) Al-Basrah, Kufah, Baghdad, Andalus dan
Mesir. Namun, aliran (madrasah) yang paling terkenal dalam kitab-kitab
nahwu hanya dua, Basrah dan Kufah.
Aliran
(Madrasah) Basrah.
Aliran (Madrasah) ini berkembang pesat
hingga terkenal di kalangan para ulama nahwu (Nahwiyyiin), dikarenakan
begitu semangat dan gigihnya para pelajar (thalib) dalam mempelajari
ilmu nahwu yang langsung diajar oleh penyusun kitab nahwu pertama kali, Abu
Aswad ad-Dhuali. Sebab utama begitu semangatnya mereka dalam mendalami ilmu
nahwu, ketika itu Negeri Basrah telah bercampur penduduknya antara pribumi
(baca; warga Basrah) dengan non pribumi (azam) yang hidup layaknya
seperti penduduk asli. Bahasa arab merupakan bahasa resmi negara pada waktu
itu, namun karena adanya percampuran non pribumi dalam negeri itu yang secara
otomatis mengakibatkan adanya kerusakan dalam susunan tata bahasa arab.
Sibawaihi merupakan salah satu produk aliran (madrasah) Basrah, yang
telah mengarang buku nahwu yang berjudul "al-Kitab". Diantara
ciri khas aliran (madrasah) Basrah selalu berpegang pada pendapat jumhur
bahasa (lughoh) bila terdapat khilaf. Jika terdapat yang menyalahi
jumhur mereka takwilkan� atau menggolongkannya sebagai kelompok yang ganjil (syaz),
dan aliran (madrasah) ini selalu menggunakan sima'i dalam memecahkan
suatu masalah yang berkaitan dengan gramatikal bahasa arab. Aliran (Madrasah)
Kufah.
Negeri Kufah terkenal sebagai Negerinya para
Muhadditsin, Penyair dan Qira ah. Sehingga terdapat di dalamnya tiga ulama yang
masyhur dalam qira ah seperti kisai, Ashim Bin Abi Al-Nujud dan Hamzah. Kisaai
termasuk pendiri aliran (Madrasah) Kufah. Penadapatnya terhadap suatu
masalah dalam gramatikal bahasa arab selalu menjadi acuan, baik pengikutnya
maupun yang lainnya. Ciri khas aliran (madrsah) ini, lebih sering
menggunakan qiyas dalam memecahkan suatu masalah yang berkaitan dengan
gramatikal bahasa arab. Jadi, begitu indahnya bahasa arab memiliki pemerhati
bahasa yang mampu menjaga estetika bahasa itu sendiri. Bagaimana dengan bahasa
Indonesia, akankah tetap memiliki estetika bahasa yang tinggi? Semoga!
KEPUSTAKAAN
Al-Gulayain, Mustafa, jami’ud durus al-arabiah, DKI,
Arsyad, Azhar,
2002, bahasa arab dan metode pengajarannya beberapa pokok pikiran, makassar:
pustaka pelajar, cetakan ketiga.
Baijuri, syeikh
Ibrahim, fathu rabbul bariyah, semarang: pustaka alawiyah.
Banna’ Haddam, Al-Balâghah: fi ‘Ilm
al-Ma’ani. Ponorogo: Darussalam Press.
Chirzin,
Muhammad, Al Qur’an dan Ulumul Qur’an (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima
Yasa, 1998)
Dayyabdkk, 2004: 437-439.
Hadi,MA,
Prof.Sutrisno, Metodologi research I,(Yogyakarta
: Andi Ofset,1997), cet 25
Imrithi,
syeikh, khasiyah syarh imrithi, semarang: pustaka alawiyah.
Izzan, Ahmad,
2009, metodologi pembelajaran bahasa arab, bandung: humaniora, cetakan ketiga.
Jarim, ‘Ali dan Musthafa Amin. Al-Balâghah
al-Wadhihah. Mesir:Dâr al-Ma’ârif. Cet.X. hlm. 192-199
Makhluf, syeikh, Jauharul maknun ‘alaa syarhil
lubbul mushawwan Al-Mahalli dan As-Suyuthi, (Jilid IV) 2005:2721
Nurkholis dkk, 2005:276
Nur Ibrahimi, Muhammad, ilmu mantiq, surabaya: maktabah sa’d bin
nashir nabhan, cetakan
kelima.
Rahimah, Ilmu Balaghah Sebagai Cabang Ilmu
Bahasa Arab (Sumatera Utara: USU digital library, 2004)
Sonhaji, matan jurumiyah.
Thoha, Hj. Maryam, Duruusul balaaghah. Pustaka salafiyah
[1] Azhar arsyad, 2002, bahasa arab dan metode pengajarannya beberapa
pokok pikiran, makassar: pustaka pelajar, cetakan ketiga, hal. 10.
[2]Azhar arsyad, 2002, bahasa arab dan metode pengajarannya beberapa pokok
pikiran, makassar: pustaka pelajar, cetakan ketiga, hal. 11.
[3] Ahmad izzan, 2009, metodologi pembelajaran bahasa arab, bandung:
humaniora, cetakan ketiga, hal. XI.
[4]Mahsun, metode penelitian bahasa, 2013, hal. 31.
[5]Mahsun, metode penelitian bahasa,2013, hal. 16-17
[7]Prof.Sutrisno Hadi,MA, Metodologi research I,(Yogyakarta : Andi
Ofset,1997), cet 25, hlm.82
[8]Muhammad Chirzin,
Al Qur’an dan Ulumul Qur’an (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa,
1998), hlm. 177.
[9]Muhammad Chirzin,
Al Qur’an dan Ulumul Qur’an (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa,
1998), hlm. 177.
[10]Rahimah, Ilmu Balaghah Sebagai Cabang Ilmu
Bahasa Arab (Sumatera Utara: USU digital library, 2004), hlm. 13.
[11]Hasyimi, 1960, hal. 85
[12]QS. Al Maidah: 116
[14]QS. Al Muddatstsir: 42- 43
[15]QS. Al Anbiya: 52
[16] Duruusul balaghah, hal. 30.
[17]QS. Al Baqarah: 245
[18]QS. Ali Imran: 101
[19]QS. Al Isra’: 51
[20]QS. Al Qiyamah: 6
[21] Maryam Thaha, Duruusul balaghah, hal 31.
[22]QS. Maryam: 8
[23]QS. Al Baqarah: 259
[24]QS. At Takwir: 26
[25]Lihat. ‘Ali Jarim dan Musthafa Amin. Al-Balâghah
al-Wadhihah. Mesir:Dâr al-Ma’ârif. Cet.X. hlm. 192-199, dan Haddam Banna’, Al-Balâghah:
fi ‘Ilm al-Ma’ani. Ponorogo: Darussalam Press. hlm. 29-38
[26] Durusul balaghah, hal. 27.
[27]Durusul balaghah, hal. 28-29.
[28]Nurkholis dkk, 2005:276
[29]Al-jarim dan Amin, 1999, hal. 218
[31]durusul balaghah, hal. 33.
[32]Jauharul maknun ‘alaa syarhil lubbul mushawwan, hal. 118—119.
[33]Qs.Al-Fajr:23
[34]Al-Mahalli dan As-Suyuthi, (Jilid IV)
2005:2721
[35]Duruusul
balaaghah, hal. 35.
[36]QS. Al Insan: 1
[38] Durusul balaghah, hal. 13-14.
[39]Duruusul
balaaghah, hal. 27-28.
[40]Sukmadinata,
2006, hal. 72
[42] Mustafa al-Gulayain, jami’ud durus al-arabiah, DKI, hal. 11.
[43] Sonhaji, matan jurumiyah, hal. 4.
[44] Imrithi, khasyah syarh imrithi, semarang: pustaka alawiyah, hal. 7.
[45] Ibrahim baijuri, fathu rabbul bariyah, semarang: pustaka alawiyah,
hal. 7
[46] Muhammad Nur Ibrahimi, ilmu mantiq, surabaya: maktabah sa’d bin nashir
nabhan, cetakan kelima, Hal, 30.