 |
| Add caption |
بسم الله الرّحمن الرّحيم
Layaknya
mengajarkan bahasa asing lain, mengajarkan Bahasa Arab berarti mengajarkan
berbicara dengan menggunakan Bahasa Arab. Mengenalkan kosa kata hanyalah tahap
awal. Selanjutnya, menyusun kalimat dan melafadzkannya. Kalau diperhatikan,
perkembangan teori meningkatkan keterampilan berbicara dengan Bahasa Arab
sekarang ini begitu pesat dan sangat bervariasi.
Latar belakang penulis mengidentifikasi demikian adalah bahwa
keberadaan manusia berbicara itu lebih banyak dari pada manusia menulis dan
karena kita bisa mendapati seseorang itu mempelajari bahasa tertentu tatkala
dia mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tersebut. Selain itu,
berbicara merupakan sebuah rutinitas dan melibatkan lebih dari satu orang.
Idealnya, berbicara adalah proses mengejawantahkan pikiran yang direpresentasi
lewat simbol bunyi dengan ungkapan-ungkapan bahasa yang mudah dipahami kemudian
direspon oleh pendengar. Hal ini tidak hanya terjadi pada masa yang sebentar.
Malah menjadi aktifitas setiap pagi, siang, sore, dan malam hari.
Sedang menulis,
hanyalah kegiatan yang dilakukan kala diperlukan untuk tujuan tertentu. Yakni,
membuat dokumen perjanjian, untuk dihafalkan, diagendakan, dan diarsipkan. Menulis
untuk menggambarkan arti di atas kertas, untuk melestarikan ucapan. Anak lebih
dulu belajar berbicara sebelum ia dapat menulis.
Semi (1993)
berpendapat bahwa “Berbicara atau bercakap memainkan peranan penting karena bahasa
pada hakikatnya adalah bahasa lisan”. Dalam kehidupan sehari hari manusia
banyak melakukan interaksi dan menyampaikan pesan denga menggunakan bahasa
lisan atau berbicara. Mengingat pentingnya peranan berbicara, maka dalam
pengajaran bahasa asing, khususnya Bahasa Arab, pengajaran berbicara perlu
disajikan sedemikian rupa agar dapat menarik dan dapat merangsang peserta didik
untuk aktif berbicara.
Setelah
merenungkan pemikiran di atas, mungkin akan menyimpulkan mengajarkan Bahasa
Arab bukanlah suatu urusan yang mudah. Bahkan, akan menimbulkan banyak
pertanyaan di samping metode yang digunakan dalam mengajarkan Bahasa Arab
sangat banyak. Di lingkungan formal, pendidik lebih menitik-beratkan pada
pemerolehan bahasa secara sadar tentang aturan-aturan bahasa ataupun pemakaian
bentuk formal linguistik. Tentunya tidak semua usaha-usaha pembelajaran mereka
selalu menghasilkan perubahan yang berarti. Kenyataan seperti ini biasanya
mereka tolak dengan dalih sedikitnya kesempatan melatih peserta didik di
sekolah. Namun, perlu ditekankan di sini, peserta didik bisa saja
mendapatkannya dari pengalaman-pengalaman pribadi mereka sendiri.
Krashen juga
menyatakan bahwa untuk menguasai bahasa kedua, pembelajar dapat menggunakan dua
cara yakni melalui proses pembelajaran dan melalui proses pemerolehan.
Pembelajaran merupakan proses yang disadari dan bertitik-berat pada perhatian
pembelajar pada bentuk bahasa atau struktur. Sedang pemerolehan merupakan
proses serupa pada saat menerima bahasa pertama. Pemerolehan berlangsung
sejalan dengan aktifitas yang tidak disadari oleh pembelajar. (Ellis, 1986)
Uraian di atas
memperjelas bahwa belajar bahasa(dalam hal ini, Bahasa Arab) secara alami akan memperlihatkan hasil
kemampuan berbahasa yang lebih baik daripada melalui lingkungan formal.
Frekuensi komunikasi dalam situasi formal relatif lebih sedikit. lingkungan
formal sangat berkaitan dengan pembelajaran. Lingkungan informal berkaitan
dengan pemerolehan.
Memang, Ahmad
Fuad Efendi mengatakan, dalam dunia belajar-mengajar bahasa, dikenal istilah
pemerolehan bahasa(iktisaabu al-lughah – language acquistion) dan pembelajaran
bahasa(ta’allum al-lughah – language learning). Pemerolehan bahasa adalah
proses penguasaan bahasa pertama secara alamiyah melalui bawah sadar dengan
cara berkomunikasi langsung dengan orang-orang yang menggunakan bahasa
tersebut. Sedangkan pembelajaran adalah proses penggunaan bahasa, terutama
kaidah-kaidahnya secara sadar sebagai akibat dari pengajaran oleh guru atau
sebagai hasil belajar secara mandiri.
Sebagaimana
yang telah diketahui, fakta bahwa seorang anak kecil di awal dia memperoleh
bahasanya itu tidak hanya dari pembelajaran orang tua. Tapi, juga dari
lingkungan tempat dia berkumpul dengan teman sebayanya. Dari sini, dia belajar
peka menangkap suara temannya yang berbicara, dan dia berlatih menyusun kalimat
lalu mengungkapkannya.
Maka bahasa
sebenarnya adalah sesuatu yang disebut pembiasaan atau tindakan berulang ulang
yang memungkinkan untuk memperoleh bahasa terutama berbicara. Pada pemerolehan
bahasa pertama, seorang anak berawal dari saat belum menguasai apapun, seiring
dengan perkembangan fisik dan psikisnya, dan dilakukan secara alamiyah dengan motivasi
yang sangat tinggi. Pembelajaran bahasa kedua diberikan setelah seorang anak
memperoleh bahasa pertamanya.
Tidak diragukan lagi adanya cara memperoleh pembiasaan
yang dicari peserta didik itu dari pembentukan lingkungan berBahasa Arab.