Sabtu, 12 Oktober 2013

muhadlarah



الخطابة تحت الموضوع: أهمّية اللّغة العربيّة
السّلام عليكم و رحمة الله و بركاته
أيّها الإخوة الأعزّاء! قبل كلّ شيئ أتقدّم على الحاضرين في هذا الإجتماع السّعيد بقوله تعالى: و ما أرسلنا من رسول إلّا بلسان قومه ليبيّن لهم. إنّي أظنّ هذه الأية الكريمة وضّحت إلى حضرتنا أنّ لغة يستخدمها رسولنا محمّد صلّى الله عليه و سلّم هي لغة عربيّة و كما قال بعض واصفه:
 شمسه علويّ
 نوره قمريّ
 لسانه عربيّ
 قلبه رحمنيّ
 فتبليغه على أمّته باللّغة العربيّة فلا يخفى على كلّ ذي لبّ أنّ للّغة العربيّة أهمّية عظمى و لكن قلّما كان النّاس يتكلّمون باللّغة العربيّة الفصحى الصّحيحة فلهذا أيّها الإخوة أريد أن أحِثَّكم على تعلّم اللّغة العربيّة بالتّجنّب عن اللّغة العامة و لا نستعمل الكلمات في محادثتنا إلّا ما صحّت كتابتها. و نكفي بهذا ثمّ السّلام عليكم و رحمة و بركاته.

Rabu, 02 Oktober 2013

speak arabic, please!

Add caption

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Layaknya mengajarkan bahasa asing lain, mengajarkan Bahasa Arab berarti mengajarkan berbicara dengan menggunakan Bahasa Arab. Mengenalkan kosa kata hanyalah tahap awal. Selanjutnya, menyusun kalimat dan melafadzkannya. Kalau diperhatikan, perkembangan teori meningkatkan keterampilan berbicara dengan Bahasa Arab sekarang ini begitu pesat dan sangat bervariasi.
Latar belakang penulis mengidentifikasi demikian adalah bahwa keberadaan manusia berbicara itu lebih banyak dari pada manusia menulis dan karena kita bisa mendapati seseorang itu mempelajari bahasa tertentu tatkala dia mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tersebut. Selain itu, berbicara merupakan sebuah rutinitas dan melibatkan lebih dari satu orang. Idealnya, berbicara adalah proses mengejawantahkan pikiran yang direpresentasi lewat simbol bunyi dengan ungkapan-ungkapan bahasa yang mudah dipahami kemudian direspon oleh pendengar. Hal ini tidak hanya terjadi pada masa yang sebentar. Malah menjadi aktifitas setiap pagi, siang, sore, dan malam hari.
Sedang menulis, hanyalah kegiatan yang dilakukan kala diperlukan untuk tujuan tertentu. Yakni, membuat dokumen perjanjian, untuk dihafalkan, diagendakan, dan diarsipkan. Menulis untuk menggambarkan arti di atas kertas, untuk melestarikan ucapan. Anak lebih dulu belajar berbicara sebelum ia dapat menulis.[1]
Semi (1993) berpendapat bahwa “Berbicara atau bercakap memainkan peranan penting karena bahasa pada hakikatnya adalah bahasa lisan”. Dalam kehidupan sehari hari manusia banyak melakukan interaksi dan menyampaikan pesan denga menggunakan bahasa lisan atau berbicara. Mengingat pentingnya peranan berbicara, maka dalam pengajaran bahasa asing, khususnya Bahasa Arab, pengajaran berbicara perlu disajikan sedemikian rupa agar dapat menarik dan dapat merangsang peserta didik untuk aktif berbicara.
Setelah merenungkan pemikiran di atas, mungkin akan menyimpulkan mengajarkan Bahasa Arab bukanlah suatu urusan yang mudah. Bahkan, akan menimbulkan banyak pertanyaan di samping metode yang digunakan dalam mengajarkan Bahasa Arab sangat banyak. Di lingkungan formal, pendidik lebih menitik-beratkan pada pemerolehan bahasa secara sadar tentang aturan-aturan bahasa ataupun pemakaian bentuk formal linguistik. Tentunya tidak semua usaha-usaha pembelajaran mereka selalu menghasilkan perubahan yang berarti. Kenyataan seperti ini biasanya mereka tolak dengan dalih sedikitnya kesempatan melatih peserta didik di sekolah. Namun, perlu ditekankan di sini, peserta didik bisa saja mendapatkannya dari pengalaman-pengalaman pribadi mereka sendiri.
Krashen juga menyatakan bahwa untuk menguasai bahasa kedua, pembelajar dapat menggunakan dua cara yakni melalui proses pembelajaran dan melalui proses pemerolehan. Pembelajaran merupakan proses yang disadari dan bertitik-berat pada perhatian pembelajar pada bentuk bahasa atau struktur. Sedang pemerolehan merupakan proses serupa pada saat menerima bahasa pertama. Pemerolehan berlangsung sejalan dengan aktifitas yang tidak disadari oleh pembelajar. (Ellis, 1986)
Uraian di atas memperjelas bahwa belajar bahasa(dalam hal ini, Bahasa Arab)  secara alami akan memperlihatkan hasil kemampuan berbahasa yang lebih baik daripada melalui lingkungan formal. Frekuensi komunikasi dalam situasi formal relatif lebih sedikit. lingkungan formal sangat berkaitan dengan pembelajaran. Lingkungan informal berkaitan dengan pemerolehan.
Memang, Ahmad Fuad Efendi mengatakan, dalam dunia belajar-mengajar bahasa, dikenal istilah pemerolehan bahasa(iktisaabu al-lughah – language acquistion) dan pembelajaran bahasa(ta’allum al-lughah – language learning). Pemerolehan bahasa adalah proses penguasaan bahasa pertama secara alamiyah melalui bawah sadar dengan cara berkomunikasi langsung dengan orang-orang yang menggunakan bahasa tersebut. Sedangkan pembelajaran adalah proses penggunaan bahasa, terutama kaidah-kaidahnya secara sadar sebagai akibat dari pengajaran oleh guru atau sebagai hasil belajar secara mandiri.[2]
Sebagaimana yang telah diketahui, fakta bahwa seorang anak kecil di awal dia memperoleh bahasanya itu tidak hanya dari pembelajaran orang tua. Tapi, juga dari lingkungan tempat dia berkumpul dengan teman sebayanya. Dari sini, dia belajar peka menangkap suara temannya yang berbicara, dan dia berlatih menyusun kalimat lalu mengungkapkannya.
Maka bahasa sebenarnya adalah sesuatu yang disebut pembiasaan atau tindakan berulang ulang yang memungkinkan untuk memperoleh bahasa terutama berbicara. Pada pemerolehan bahasa pertama, seorang anak berawal dari saat belum menguasai apapun, seiring dengan perkembangan fisik dan psikisnya, dan dilakukan secara alamiyah dengan motivasi yang sangat tinggi. Pembelajaran bahasa kedua diberikan setelah seorang anak memperoleh bahasa pertamanya. 
Tidak diragukan lagi adanya cara memperoleh pembiasaan yang dicari peserta didik itu dari pembentukan lingkungan berBahasa Arab.


[1] www.themegallery.com
[2] Ahmad fuad efendi, Metodologi Pengajaran bahasa arab, (Malang, 2005), hal: 164.

Senin, 05 Agustus 2013

Cayoo!


selamat datang!


Perkenalkan! Saya bukan seorang wartawan, jurnalis handal, juga pemimpin. Tapi, hanyalah manusia yang memiliki lautan bahkan samudra masalah yang membeku dalam diri. Mengarunginyapun jelas membutuhkan latihan. Dari sini, izinkan saya meluapkan keluh-kesah yang membelenggu dalam bentuk tulisan sekedar mengurangi sinyal negatif yang saya terima. jika anda membacanya dengan tekun dan penuh semangat, saya ucapkan terima kasih karena itu berarti anda akan menunjukkan benang merahnya kepada saya.